Enjoyable Bali – Taman Ujung

Karena lokasinya dalam rute perjalanan dari Amed ke Kuta, kami sempatkan mampir ke Taman Ujung.

Taman Ujung
Seluruh areal Taman Ujung dari tempat tertinggi dengan gunung dan laut sebagai background

 

Kami hanya mampir sebentar dan belum eksplor area ini yang merupakan tempat peristirahatan kerajaan Karangasem

Enjoyable Bali – Brazilian Aussie BBQ Kuta

Hanya untuk penggemar daging. Sampai kita bilang stop, kalau tidak, daging itu akan terus mendatangi.

Restoran ini dikenalkan oleh teman di bulan Maret 2015 yang lalu sewaktu ada acara kantor di Bali. Restoran ini adalah buffet daging asal Aussie ala Brazilian BBQ. Maksudnya adalah daging sapi/lamb/pork/chicken/sosis yang akan diantar ke meja kita begitu selesai dipanggang. All meat you can eat. Pelayan akan datang dengan daging  baru selesai dipanggang. Saat di slice, daging itu terlihat sangat lembut dan seketika juga air liur sudah memenuhi mulut.

Satu persatu daging berdatangan ke kita selama kartu sisi hijau terlihat oleh pelayannya. Anak-anak makan dengan nasi, sedangkan kami orang tuanya cukup dengan daging saja. Harganya tidak begitu mahal kalau dilihat dari ukuran porsi dan rasa jika dibandingkan dengan harga restoran untuk sepiring steak 200 gram.

Walaupun demikian, kami juga melayangkan feedback ke Chefnya karena lamb yang datang di kali kedua sangat asin dibandingkan dengan lamb yang pertama kali kami rasakan saat awal makan. Kami minta lamb BBQ dari batch yang lain, karena rasa asinnya sudah kelewatan. Tidak lama saat kami menunggu, Executive Chef dari Brazil menghampiri kami dan menjelaskan mengapa asin. Kami bisa terima penjelasannya, dan minta dia juga mengerti kalau kami tidak bisa memakannya karena sangat asin. Jadi dia tidak akan mengrill  baru, itu intinya dan rasa asin bagi dia adalah konsekuensi normal dari proses BBQnya. Dari situ saya ingin berbagi tips tentang makan disini:

  1. Dalam oven, semua daging disusun bertingkat. Daging itu di panggang dengan memutar-mutar. Karena bertingkat, deretan daging yang di susunan bawah akan lebih asin setiap kali dihidangkan karena terkena tetesan lemak dan saus marinade dari daging di lapisan atas. Tetesan itulah yang bikin asin. Mintalah bagian daging yang di dalam saat di slice, rasanya pas. Tidak terlalu asin. Ini adalah solusi dari feedback yang saya berikan.
  2. Eat slowly. Daging cepat bikin kenyang dan kenyangnya dalam waktu lama karena lambung sulit memprosesnya. Makan yang terburu-buru (karena daging terus berdatangan) akan membuat cepat kenyang. Pause saja supply daging dengan membalikkan kartu ke sisi merah. Setelah piring kosong, jadikan hijau kembali.
  3. Terakhir, kalau mulai terasa eneg, mintalah nanas BBQ. Rasa asam dan manis alami dari nanas akan menghilangkan rasa eneg dan sekaligus membersihkan pallet kita untuk mencoba menu yang lain.

Malam itu perut penuh, kenyang dan kami tidak ingin ketemu daging untuk beberapa waktu kedepan. It was also another good meal. Saking kenyangnya kami tidur cepat sekembalinya ke hotel Grand Barong, ya… kami semua tidur lebih awal, karena capek dan kekeyangan.

Klik disini untuk melihat ulasannya di Trip Advisor http://www.tripadvisor.co.id/Restaurant_Review-g297697-d4039441-Reviews-Brazilian_Aussie_BBQ-Kuta_Bali.html

Enjoyable Bali – Warung Sabar Amed

Pemiliknya sangat ramah. Setiap tamu dianggap benar benar seperti orang bertamu ke rumahnya. Makanan enak dengan porsi besar. Bahkan pemiliknya sangat helpful.

Trip Advisor tidak menunjukkan lokasi tepat dari warung yang menduduki peringkat 8 dari 50 resto di Amed pada waktu itu. Oleh karena itu saya telpon saja nomor yang muncul di situs TA. Pemilik mengangkatnya dan memberitahu lokasi kira-kiranya, bahkan… menawarkan diri untuk menjemput kami di Puri Wirata.

Sebelum menyusuri Amed kami makan siang dulu di Warung Sabar. Anak-anak makan sosis dan fries, sedangkan istri nasi campur dan saya pilih babi kecap. Siang itu kami makan dengan lahap dan kenyang, mengingat malam sebelumnya kami kecewa dengan restoran The Grill. Malam hari pun demikian. Setelah menikmati Sunset di Tulamben, saya pergi sendiri kembali ke Warung Sabar dan membeli beberapa menu untuk take away karena anak-anak sudah capek setelah bermain dipantai.  Saat saya menunggu pesanan selesai dimasak, malam itu Warung Sabar kedatangan banyak tamu bule, dan hanya saya turis domestik sendirian. Menurut pemilik, memang tidak banyak orang Indo yang datang ke Amed.  Kebanyakan mereka memilih Bali Selatan, karena dekat dengan obyek wisata dan keramaian daripada ke Bali Timur yang jauh.

Lokasinya Warung Sabar ada di 8°20’59.3″S 115°40’51.4″E

Di hari terakhir setelah check out Puri Wirata, kami makan siang terlebih dahulu di Warung Sabar. Dan saya terpikir untuk minta tolong hal yang tidak umum. Saya minta bantuan ke pemilik apakah dia memiliki pembersih mobil yang bisa menghilangkan goresan. Ya… mobil sewaan memang tergores tipis oleh stang motor, dan saya ingin membersihkannya. Dengan tanpa ragu-ragu, Pak Ketut si pemilik bilang kalau dia akan pulang ke rumah dan mengambilkan perlalatan poles mobil. Dia pun pergi naik motor. Selagi dia pergi, saya buru-buru menghabiskan nasi goreng, supaya saya punya cukup waktu untuk menggosok mobil sekembalinya Pak Ketut.  Tidak lama kemudian, dia pun kembali dengan sekeranjang pembersih dan lapnya. Tidak  berhenti disitu, dia juga ikut menggosok. Karena sungkan dan merasa tidak pantas, saya memaksa untuk melakukannya sendiri. Menurut saya, bantuan dia sudah lebih dari cukup. Akhirnya percakapan terjadi dan lebih kenal tentang bagaimana dia hidup di Amed dan bagaimana dia membuka warung ini. Mobilpun akhirnya kinclong kembali dan goresan tersamarkan.

Dari kejadian itu, tidak heran kalau review di Trip Advisor banyak menyebutkan kalau pemilik/staff di Warung ini ramah. Tidak hanya ramah tapi suka membantu.

Mungkin tempat ini adalah tempat yang terbaik untuk mendapatkan makanan enak yang value for money di Amed. Link Trip Advisor, klik saja http://www.tripadvisor.co.id/ShowUserReviews-g608478-d4104406-r160777062-Warung_Sabar-Amed_Abang_Bali.html

Enjoyable Bali – Amed

Selain umumnya dikenal sebagai tempat snorkeling dan diving, menurut kami pantai yang pristine di Amed adalah tempat yang indah untuk menikmati sunset dan sunrise. Satu tempat, komplit!

Setelah pegunungan, sekarang tiba waktunya kami pindah ke daerah pesisir pantai. Jarak dari Ubud ke hotel di Amed sekitar 66 km. Sebenarnya Amed adalah desa nelayan yang isolated dan miskin sampai sejak tahun 90-an, saat orang mulai tahu Amed sebagai destinasi wisata diving dan snorkeling. Dan sejak tahun itu, ekonomi di daerah ini berkembang. Lokasi Amed ada di Bali Timur. Dari Ubud bisa dicapai sekitar 3 jam.

Kembali Google Maps menjadi penunjuk arah. Kami melalui jalan selebar tiga lajur yang bagus nan mulus. Yaitu jalan Ir Ida Bagus Mantra yang terbentang dari ujung By Pass Ngurah Rai hingga jalan menuju Padang Bai. Selepas jalan lebar dengan suguhan laut, kami mulai lewat jalan naik turun gunung dan berkelok-kelok. Tapi semua jalan bagus, tidak ada jalan yang rusak, berlubang atau bergelombang parah (saya bandingkan dengan daerah Pelabuhan Ratu ke Sawarna Banten). Bali punya kualitas jalan yang sangat baik. Sama seperti pengalaman saat mencari Bakung Ubud, kami juga meragukan lokasi Puri Wirata Resort and Spa. Tapi lagi-lagi Google Maps spot-on, petanya akurat. Setelah menemukan lokasi Puri Wirata, kami nyadar kalau kedua hotel yang kami tinggali so far ini bener-bener mepet dengan POInya. Kalau Ubud mepet sawah, kalau Puri Wirata mepet pantai.

Hari sudah sore, sekitar pukul 16:30 saat kami tiba di Puri Wirata, Setelah tas masuk dan melihat view dari balkon dan roof top, kami turun ke pesisir pantai yang berbatu di belakang hotel. Saat itu air laut sedang surut jadi kami bisa berjalan agak ketengah sambil main lempar batu.

IMG-20150717-WA0009
Pantai berbatu dibelakang hotel. Sky suka lempar-lempar batu.

Saat matahari mulai tenggelam, suasana berangsur menjadi tenang. Kami hanya duduk berempat di atas batu lalu nyanyi-nyanyi lagu kesukaan anak-anak sampai hari menjadi gelap dan bulan muncul dari sisi timur.  Tak lama kemudian banyak bintang mulai terlihat diatas sana.

Keesokan harinya, coba menyusuri jalan dengan mobil setelah makan siang karena ingin tahu ada apa di sekitar hotel.  Sepanjang jalan yang kecil itu kami melihat banyak hotel bagus dan juga sedang dibangun. Kami lihat juga pantai berpasir coklat termasuk lokasi diving “Japanese Shipwreck”. Di satu titik yang cukup tinggi kami berhenti, putar mobil dan parkir. Kami turun sejenak dan melihat laut yang luas disisi kanan, sedangkan sisi kiri garis pantai yang panjang dengan latar belakang bukit. Benar-benar pemandangan yang sangat indah.

Sebelumnya kami juga sempat menepi karena setelah melihat kebawah ada air laut yang jernih berwarna biru kehijauan. Saking beningnya sampai-sampai batu-batu dibawahnya pun terlihat. Beberapa bule juga terlihat mengapung dengan perlengakapan snorkeling. Kamipun turun dari mobil dan menuruni tangga dari batu yang sudah disemen. Tidak ada pesisir pantai atau batu kecil dibawah sana kecuali batu besar yang kita perlu hati-hati saat melangkah dan tidak terburu-buru. Sekali lagi kami dibuat takjub dengan pemandangan laut luas dan yang masih pristine.

Sunset

Saat waktu sudah menjelang sore kami mencari pantai berpasir untuk menikmati sunset dengan background gunung Agung. Kami menemukan tempatnya yang juga tidak jauh dari hotel. Sesampainya disana kami baru sadar kalau di Amed ada banyak variasi pantai. Mulai dari berbatu cadas, batuan kerikil, pasir hitam sampai pasir coklat. Tempat untuk menikmati sunset ini adalah Amed Tulamben. Saat matahari mulai rendah, pemandangan indahpun kembali muncul.  Menurut kami, Amed adalah salah satu tempat yang indah untuk melihat sunset. Anak-anak terus bermain sampai basah kuyup  hingga benar- benar gelap. Kami kembali ke parkiran mobilpun ditemani dengan lampu senter dari HP. Foto ini adalah pesanan istri, karena dia ingin satu gambar yang mewakili kami berempat yaitu gunung, laut, matahari dan langit.

Sunrise

Matahari terbit sekitar pukul 6 pagi. Sambil mengantuk, anak-anakpun kami gendong masuk ke mobil setengah jam sebelumnya, lalu kami menuju pantai yang menghadap timur, yaitu pantai dengan pasir coklat. Sesampainya disana, sepertinya hanya kami berempat yang ada di lokasi sepagi itu. Sebelum kami sampai, langit merah sudah mulai terlihat dikejauhan. Lalu saya menepikan mobil sejak untuk mengambil  foto dari kamera HP. Difoto itu terlihat, saat cuaca cerah, pulau Gili (Lombok) dengan puncak gunung yang bergerigi terlihat dengan jelas.

Sunrise
Menjelang sunrise

Dari tempat saya berdiri untuk mengambil foto diatas, ternyata titik itu tidak jauh dari akses untuk menuju ke pantai, lalu akhirnya kami ke pantai.

Misael masih diliputi rasa kantuk, moodnya masih ga karuan karena di masih ingin tidur. Lain halnya dengan Sky, dia sudah energized walaupun belum begitu cukup tidur.

Tidak lama setelah kami tiba dipantai, mataharipun mulai keluar. Kami bersyukur bisa menikmati satu paket sunrise dan sunset di area yang sama. Bersyukur juga atas alam ciptaan yang sangat indah.

Sebelum meninggalkan Amed, saya sempatkan untuk mengambil pasir pantai untuk ditaruh di akuarium di rumah. Sama seperti saya juga mengambil pasir hitam saat menikmati sunset di Tulamben dengan harapan untuk bisa kembali lagi kesini.

Enjoyable Bali – Warung Gemitir

Kami pesan menu andalan yaitu Ayam Sereh dan Ayam Santan. Kuahnya penuh rasa tapi ringan terasa pas saat dimakan dengan nasi. Value for money sekaligus cuci mata dengan pemandangan lembah yang indah.

Hari kedua di Ubud kami rencanakan untuk ke Kebun Raya. Google menunjukkan jalannya. Perjalanan dari Ubud ke Kebun Raya sangat lancar karena aspal yang mulus. Infrastuktur jalan Bali memang benar-benar diperhatikan dan bagus demi menunjang pariwisata. Waktu itu kira-kira pukul 1 siang dan kami mulai lapar. Kami melihat ada iklan spanduk Bumbu Desa tinggal beberapa kilometer lagi. Tanpa ragu kita putuskan untuk ke Bumbu Desa, karena sudah familiar. Tidak lama berselang, kami melihat iklan Warung Taman Gemitir. Warung ini lebih dekat dengan posisi kami saat itu dan iklan itu menyatakan jika warung ini  menyediakan masakan khas Bali dengan menu andalan Ayam Sereh dan Ayam Santan. Seketika itu kami berpaling dari masakan Sunda ke masakan Bali.

Gerbang Warung Taman Gemitir

Kami parkir diseberang jalan lalu menyebrang. Dari luar tempat ini terlihat keren karena banyak bunga-bunga dan utamanya Bunga Gemitir yang berwarna oranye. Saat masuk lebih dalam, kami langsung jatuh cinta dengan balkonnya karena pemandangan yang luar bisa menakjubkan.

IMG-20150717-WA0020
Mama lagi suapin Kakak Mis dan Sky

Kami makan di meja panjang sambil melihat kebawah walaupun sesekali panas karena matahari yang tidak tertutup awan, pemandangan indah itu yang buat kita stay sampai makanan habis.

Setelah makan kenyang dan puas, kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bali dan sampai disana kurang dari 15  menit.

Enjoyable Bali – Kebun Raya Bali

Kebun ini luar biasa mengagumkan besarnya. Hutan Pinus adalah tempat favorit saya.

Kebun Raya Bali memang tidak di daerah Ubud. Kalau lihat peta, letaknya di utara Ubud, di daerah Bedugul dekat dengan gunung dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam saja. Inilah keuntungan dengan menyewa mobil, bisa kemana saja, jauh sekalipun. Sepanjang perjalanan, saya katakan ke istri kalau Monkey Forest bikin mupeng. Pengen masuk kesana dan jalan di hutannya tapi kalau bisa tanpa monyet, which is gak mungkin. Males banget kalau ada monyet yang ngerjain kita, mending ga usah.

Tetapi keinginan itu terpenuhi begitu masuk kebun raya. Mata saya langsung jadi ijo. Banyak ungkapan kekaguman yang saya ucapkan sembari memasuki area kebuh setelah dari gate. Kemegahan kebun makin diperjelas dengan patung-patung cerita Ramayana yang ukurannya sangat besar dan detil. Berbekal peta yang diberi waktu bayar tiket masuk, kami menelusuri jalan taman dengan tetap di dalam mobil. AC mobil tidak perlu lagi, jendela mobil diturunkan supaya udara dingin dan sejuk diluar bisa masuk dan menyegarkan pikiran.

Sky yang tidak bisa ngelepasin tripod Hutan Pinus    Hutan Pinus    Hutan Pinus    Hutan Pinus    Hutan Pinus    Rose Garden    Rose Garden    Rose Garden    Patung Rahwana    Dibawah pohon cemara    Patung Rahwana
Sky yang tidak bisa ngelepasin tripod

 

 

Hutan Pinus

Tidak semua taman-taman di dalam Kebun Raya kami kunjungi karena luas dan besarnya. Pemberhentian pertama kami di hutan pinus. Mobil cukup diparkir dipinggir jalan lalu kami bermain di hutan pinus. Tempatnya sepi, kami bisa berteriak lepas. Saya minta Misael nyanyi “I am a promise”, lagu graduationnya. Dengan suara keras sambil berdiri di atas batu dia menyanyi dengan suara yang menggema.

Disini juga kami berlarian di tanah yang tertutup dengan daun dan ditumbuhi tumbuhan paku-pakuan. Beberapa kali Sky terjatuh di tanah, tapi tidak ada luka karena permukaan yang soft. Anak-anak bermain hide and seek, sambil ketawa-ketawa. Beberapa kali saya tanya ke mereka dan jawabnya “I am happy”. Dan saya puas dengan jawaban mereka. Tidak jauh dari situ ada pohon beringin tua, terlihat agak spooky tapi memang terlihat bagus. Kami foto dibawahnya. Sambil mempersiapkan kamera Sky main-main tanah dibawah pohon ini dengan senangnya.

 

Rose Garden

Udara makin dingin karena hari makin sore dan mendung. Tidak terasa kalau ada uap air yang keluar saat kita ngomong. Pemberhentian kedua ada di Rose Garden dekat dengan Patung Rahwana. Istri saya senang dengan bunga mawar karena dirumah juga dia merawat mawar. Cuman kenapa di rumah bunga mawarnya kecil-kecil, sedangkan di kebun ini kelopaknya besar walaupun sangat fragile alias mudah rontok. Disini juga pertama kali saya mencium bunga mawar putih yang benar-benar wangi. Selain mawar putih, ada juga merah dan oranye dengan tangkai yang tinggi.

Masih ada banyak taman-taman yang belum kami kunjungi. Yang saya ingat antara lain: taman palem, taman paku-pakuan, aquatic, anggrek, taman bambu, taman adventure dengan high rope dan flying fox. Kami ada di Kebun Raya ini sampai benar-benar jam terakhir. Sebelum pulang, kami kembali ngiterin kebun. Naik kembali ke hutan pinus, turun ke guest house kosong dengan lake view yang magnificent, lalu melalui jalan berkelok-kelok menuju VIP guest house kosong dan akhirnya ke Rose Garden lalu pintu keluar. Kami benar-benar mobil terakhir yang meninggalkan Kebun Raya di sekitar pukul 18:10.

Kami sekeluarga puas dan  ingin kembali lagi ke Kebun Raya yang bagus dan sangat murah. Kami hanya bayar 26 ribu saja untuk dua dewasa dan biaya mobil untuk taman yang seluas ini.

Peta Kebun Raya Bali

Enjoyable Bali – Warung Bintang Ubud dan restoran lainnya

Menu Western dan Indonesian di harga mulai 25 ribu hingga 60 ribu. Rasa enak, dan porsi pas. Termasuk ranking 12 Trip Advisor pada waktu kami di Ubud awal Juli 2015.

Hari pertama kita di Ubud kami habiskan dengan jalan-jalan. Trip Advisor memang benar—benar jadi eyes and ears untuk melihat makanan apa yang enak, murah, value for money dan tidak jauh-jauh dari hotel. Dari Trip Advisor kami menemukan satu warung yang beneran tidak jauh dari hotel (jauhnya sekitar 5 menit nyetir), namanya Warung Bintang Bali (peringkat 12 dari 500 restoran di Ubud). Harga makanan yang murah dan enak menurut saya yang bikin tempat ini begitu dikenal. Kami makan disini dua kali, yaitu makan siang pertama dan makan siang terakhir di Ubud. Sebagai gambaran, makan dan minum untuk tiga orang habis sekitar 120 ribu saja (bandingkan dengan makan di Solaria untuk tiga orang). Menunya lebih ke arah Western dan Indonesian. Menu yang kami coba adalah Grilled Chicken, Small Rib, Spagetti Chicken and Cheese. Semuanya enak!.

Tempatnya di memang tidak besar, 25 orang bersamaan akan bikin warung ini terlihat penuh. Dekorasinya hippies, pemandangan sawah dan cuma terima uang tunai. Penyajian makanan memang sedikit lama sekitar 20-30 menit, jadi butuh kesabaran. Jangan bandingan dengan restoran di bandara atau di kota besar yang sudah ada pre/half cooked. Disini semua dibikin dari mentah. Dan sebenarnya itu yang bikin kualitas makanannya lebih baik. Lagian, saat di Bali, kita memang tidak perlu buru-buru, santai saja. Saat kita ke Amed, kita harap menemukan warung yang sebagus Bintang Bali Ubud.

Map di Trip Advisor hasil inputan orang untuk Warung Bintang tidak akurat. Lokasi di google ada di 8°28’55.0″S 115°16’14.5″E yang saya save langsung di lokasi.

Hari pertama memang santai, cuma keliling-keliling Ubud. Setelah makan siang di Warung Bintang, kami menuju Café Le Petit Paris yang lokasinya di jalan menuju Monkey Forest. Kesulitan dengan membawa mobil cuma satu, yaitu cari tempat parkir karena jalan yang sempit. Jadi sore itu kami parkir di depan Monkey Forest lalu jalan naik menuju cafe. Tidak jauh, hanya sekitar 7 menitan. Menurut kami, Ubud paling pas dijalanin on-foot atau strolling dengan motor.

Afternoon coffee
Afternoon coffee

Duduk dibelakang Café ini bikin ngantuk karena angin semilir dari sawah berhembus masuk. Secangkir kopi bali, mango lassie dan coklat panas cocok buat nemenin sore hari. Dan saya pun bisa turun ke sawah, jalan di pematangnya untuk melihat-lihat. Tentu saja, anak-anak langsung mengikuti. Trip Advisor memang trusted partner untuk cari informasi makan-minum di tempat yang sama sekali kita tidak tahu. Terus terang walaupun dekat dengan babi guling Ny Oka, saya tidak mampir kesana. Bagi saya terlalu asin, tidak bisa dinikmati, bisa kena darah tinggi nanti 🙂

Warung Bintang Bali kami pandang sebagai warung yang benar-benar value for money. Selain itu kami juga makan di warung lain sekedar coba-coba. Dan ada satu tempat yang kami coba dan tidak direkomendasikan karena tidak value for money dan rasa tidak enak sama sekali. Namanya Bandega, di Jalan Raya Ubud. Kami coba sate babi disana. Porsi kecil, tidak ada rasa bahkan sate disajikan tidak panas. So far, Warung Bintang masih ada di top of mind.

Setelah check out di Bakung Ubud, kami makan siang dulu di Warung Bintang Bali supaya hati senang, puas dan kenyang sebelum melanjutkan 3 jam perjalanan ke Amed.

Find more info of this place from Trip Advisor link here http://www.tripadvisor.co.id/Restaurant_Review-g297701-d4297784-Reviews-Warung_Bintangbali-Ubud_Bali.html

Enjoyable Bali – Grand Barong Resort

Letaknya di Poppies Lane 2 Kuta. Walaupun seperti tersembunyi di gang yang kecil, tidak disangka bagian dalamnya sangat luas. Menurut saya Lagoon Poolnya benar-benar innovative dan  menarik. Baru kali ini saya lihat balkon kamar nyambung dengan kolam renang.

Ini merupakan hotel terakhir dari rangkaian perjalanan di Bali. Stay di Kuta tidak pernah menjadi rencana awal. Hotel inipun kami cari melalui booking.com setelah kami putuskan untuk menginap di daerah Kuta untuk hari terakhir demi lebih dekat dengan bandara. Kamarnya hotel ini memang paling kecil kalau dibandingkan dengan dua hotel sebelumnya (Bakung Ubud dan Puri Wirata). Tetapi balkonnya bagus karena dilengkapi dengan bangku panjang dari rotan sintetis dan dua bantal besar untuk leyeh-leyeh santai.

Kami pergi dari Amed sekitar pukul 2 siang setelah makan. Lalu mampir sebentar ke Taman Ujung dan selanjutnya ke Kuta. Kami sampai Grand Barong lewat pukul 6 sore dan suasana saat di Kuta memang sangat ramai. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya saat menginap di tempat terpencil. Malam itu kami makan di Brazilian Aussie BBQ yang jaraknya cuman 10 menit jalan kaki dari hotel. Dan setelah makan kenyang, tidak tunggu waktu lama, kami berempat tertidur karena capek.

Pagi hari nya kami sarapan dan takjub dengan Lagoon Poolnya. Kolam renang yang lebih enak dipakai untuk berendam. Dan tiap kamar di lantai bawah punya akses langsung ke kolam renang dari balkonnya. Jadi seperti ada tangga langsung masuk ke dalam kolam renang. Pagi itu kami akhirnya merasakan sarapan ala hotel. Banyak menu makanan, buffet dan juga ada cereal buat anak-anak. Untuk rasa, menurut saya standar hotel jadi bisa dibilang enak.

Setelah makan kami bergegas ke pantai Kuta sambil membawa peralatan main pasir yang dibawa dari rumah. Butuh jalan sekitar 15 menit dari hotel untuk sampai ke tepi laut. Sesampainya di pantai Misael sudah sangat girang. Main pasir hanya awal, selebihnya dia bermain air laut. Sky tidak begitu menikmati laut seperti kakaknya. Dia takut. Apalagi saat ombak yang mencapai pantai itu kembali lagi. Sky lari menjauh dari air, karena pasir yang dipijaknya ikut kembali kelaut. Misael basah kuyup, Sky tidak seberapa.

Bermain pasir
Pemanasan dengan bermain pasir
IMG-20150717-WA0008
Mengambil air untuk sand castle
DSC02472
Misael kegirangan, adiknya ketakutan

Kami tidak lama main disana, kira-kira satu jam saja, dari pukul 8 ke 9 pagi. Selain karena matahari makin panas, kami juga ingin segera kembali ke hotel untuk menikmati Lagoon Pool selama mungkin. Dan kami disana hingga pukul 11 siang lalu check out sekitar setengah satu.

Ada satu hal lagi yang sangat menguntungkan kami, yaitu “diskon” kamar hotel. Mulanya begini, saya booking kamar superior yg artinya dapat kasur ukuran double. Untuk kami berempat, kasur double dijamin sempit dan bikin ga bisa tidur. Jadi saya tulis kalau saya request kamar twin sebagai preferensi. Kemudian saya mendapatkan email dari Grand Barong Hotel bahwa untuk kamar twin, saya diharuskan membayar extra 200 ribu karena itu dianggap upgrade kamar ke deluxe. Dan saya reply kalau saya bersedia membayar extra untuk twin bed. Pada waktu check out saya minta invoice dari Grand Barong dan ternyata saya hanya di charge harga awal (tanpa tambahan 200 ribu). Saya ceritakan juga ke receptionist apa adanya kalau saya mendapat email dari hotel untuk  bayar extra karena kamar twin bed. Tapi jawaban dari receptionist itu membahagiakan kalau saya tidak perlu bayar extra. Jadi saya bebas dari rasa bersalah kalau tidak memberitahu dia, disaat yang sama kami bergegas pergi, sebelum dia berubah pikiran.

Pelayanan baik, harga murah, lokasi mantab, kamar bagus, fasilitas keren… itu yang bikin kami akan kembali ke hotel ini kalau ke Bali.

Enjoyable Bali – Puri Wirata Resort and Spa, Amed

Begitu check-in nama istri saya sudah ada terpampang di papan receptionist. Setelah cek in barulah kami tahu kalau tinggal di kamar nomor 3, yang ternyata satu dari dua kamar favorit di Puri Wirata. Mengapa favorit? karena kamar No.3 dan No.4 punya roof top dengan pemandangan langsung ke laut. Roof topnya dilengkapi empat kursi berjemur dan dua payung besar. Kamar ini juga strategis karena restoran dan kolam renang persis disebelahnya. Selain itu mobil bisa persis diparkir dibelakangnya. Hasilnya, kami tidak perlu jauh-jauh dan capek untuk mengangkut koper gede-gede.
Resort ini punya dua kolam renang. Satu kolam di depan restoran punya kedalaman 3 meter dan kolam lainnya hanya 1.5 meter. Kolam yang paling dalam sering dipakai untuk kursus diving.

IMG-20150717-WA0014 IMG-20150717-WA0017 IMG-20150717-WA0009 IMG-20150717-WA0011

Kami sampai di Puri Wirata sekitar pukul 16:30, dan setelah barang-barang masuk kamar kami keluar ke belakang hotel untuk ke pantai. Saat itu air sedang surut, jadi bisa berjalan agak ke tengah. Pantai di belakang hotel bukan pantai berpasir tapi berbatu. Sebenarnya sedikit kecewa karena yang diharapkan adalah pantai berpasir, karena image pantai dikepala adalah pasir. Saat ketemu berbatu… kecewa. Walau demikian, ada positifnya yaitu tidak perlu repot2 untuk membersihkan diri dari pasir pas kembali ke kamar. Sore itu kami habiskan di tepi pantai berbatu, duduk disana, nyanyi-nyanyi dengan anak-anak, main lempar-lempar batu sambil melihat sunset. Suasana disana sangat tenang. Tidak banyak orang, benar-benar tempat escape yang pas, yang kami cari.

Sunset dari Puri Wirata Langit malam dari taman di Puri Wirata Kolam renang 3 meter Puri Wirata dari sisi pantai Full moon saat di Puri Wirata
Sunset dari Puri Wirata

Kembali ke soal kamar. Saat masuk kamar pertama kali, kami terkesan dengan kasur twin bed yang dilengkapi dengan kelambu. Tidak hanya itu, ada autan dan obat nyamuk elektrik. Jangan-jangan hotel ini banyak nyamuknya, jadi keluar masuk pintu atau balkon kami selalu segera menutupnya kembali. Tapi setelah dipikir-pikir (dan memang benar apa yang kami tebak), kalau banyak tamu bule yang senang tidur dengan pintu balkon terbuka. Dengan begitu mereka tidur sambil dengar deburan ombak, sounds very nice. Oleh karena itu hotel sediakan tiga lapis perlindungan nyamuk: obat nyamuk elektrik, autan dan kelambu. Buat kami, demi rasa aman dan nyaman, tutup balkon dan pakai AC baru bisa tidur.

Malam itu kami bingung mau makan dimana. Walaupun nama Warung Sabar terlihat di Trip Advisor, tapi tidak lokasinya. Kami menelusuri jalan masuk kembali. Dan kami putuskan untuk beli makanan di restoran GRILL yang terlihat homy dan juga ramai. Menu disana bisa dibilang mahal. Apa boleh buat, mahal mungkin karena tempatnya juga terpencil. Kami pesan sate ayam dan kebab untuk take away. Sesampainya di hotel, perasaan campur aduk karena porsi yang sangat minimal. Sate ayam dan kebab semua tampak seperti sate saja, cuman 4 tusuk masing-masing. Saus cuman sesendok makan dan nasi cuman sekepal, kira-kira 3x suap orang dewasa. Jadi lebih baik jangan ke resto ini, sama sekali tidak value for money. Ditengah perasaan “rugi” seperti itu, kita tetap bersyukur karena masih ada makanan. Dan pasti tidak akan kembali ke resto itu.

Sunrise dari Puri Wirata   Bangun tidur dan duduk di tepi pantai   Main pasir   Renang   Capek lalu tertidur di siang hari yang panas   Renang   Renang
Sunrise dari Puri Wirata

Pagi harinya, saya dan Sky bangun lebih awal. Dan kami langsung ke belakang hotel untuk melihat sunrise. Saat itu menjelang pukul 7 pagi, matahari sudah agak tinggi dari permukaan air laut tapi belum begitu panas. Air laut masih pasang, jadi batas pantai yang kemarin sore kami lihat dibawah, pagi itu tidak terlihat lagi. Kami hanya sebentar disana dan segera kembali ke kamar.

Sarapan di Puri Wirata bukan model buffet melainkan paket menu sarapan dan ala carte. Kita diminta memilih menu, apakah home made bread atau mie goreng ayau nasi goreng. Lalu memilih fruit platter atau fresh juice. Dan terakhir milih 2 eggs anyway (terserah mau diapain: boiled hard/soft, omelet atau scrambelled. Karena jatah breakfast untuk dua pax, maka kekurangannya ditutupin sama ala carte. Dari sisi menu, pilihannya cukup buat sarapan. Setelah sarapan kami santai kembali ke kamar, kemudian renang, lalu makan siang dan mencari pantai berpasir untuk menikmati sunset. Kami menikmati liburan yang seperti ini. Tidak ada target harus ke objek wisata manapun yang penting bisa menikmati waktu liburan.

Pada waktu check out, kami terpukau dengan pajak hotel, yaitu 20%. Walaupun demikian, rate permalam di Puri Wirata lebih murah jika dibandingkan dengan resort yang lain di Amed, so still good place to stay.

Click untuk kembali ke Enjoyable Bali – Intro

Enjoyable Bali – Bakung Ubud Resort and Villa

Kamar hotel baru yang cukup besar. Ditengah sawah, tenang tanpa gangguan terlebih lagi malam hari penuh bintang. Ditambah staff yang ramah dan harga yang murah, hotel ini benar-benar value for money.

Seperti yang banyak orang tahu, Ubud ada didataran tinggi dan banyak lahan sawah. Oleh karena itu kami juga tinggal di hotel yang mewah alias mepet sawah. Kami menginap di Bakung Ubud Resort and Villa. Yang sebenarnya satu lahan sawah yang diconvert menjadi villa. Sisi kanan, kiri dan belakang hotel adalah sawah. Walaupun demikian, hotel ini punya rate yang tinggi di booking.com dengan harga yang sangat murah.

Awalnya ragu apa Google mengarahkan dengan benar. Masuk dari Monkey Forest, kami lewat Ubud Palace dan naik lagi. Jalan makin lama makin sempit. Lalu belok kanan nyebrang jembatan dan setelah itu belok kiri lewat jalan aspal makin kecil, muat untuk satu mobil saja. Kalau papasan dengan mobil yang lain pasti roda turun ke tanah. Jarak tinggal 300 meter lagi menurut Google, tapi belum kelihatan ada tanda-tanda hotel. Kanan kiri rumah penduduk dan sawah. Kendaraan terus melaju pelan sambil toleh kanan kiri dan akhirnya ada satu totem bertuliskan Bakung Ubud. Nah itu dia, belok kanan dan saya kira sampai, ternyata belum. Setelah belok kanan yang ada jalan beton kecil selebar satu mobil dan kelihatan ada pagar rumah orang. Ragu kembali, tapi apa boleh buat, sudah kadung masuk. Kalau salah yang putar lagi gimana caranya. Tapi ternyata benar, persis disebelah rumah orang itu adalah hotelnya. Tempat parkirnya tidak luas, tapi sangat cukup untuk parkir.

UBD_6758 UBD_6761 UBD_6784 UBD_6798 UBD_6816

Staff hotelnya ramah dan banyak orang lokal dan bule nginep disana. Kami tinggal di kamar 101 yaitu kamar twin bed dengan standing shower sebesar apartemen studio yang letaknya di depan kolam renang. Hotelnya tenang, bangunan paling tinggi di lantai 3 dengan pemandangannya sawah. Ada jalan tembus ke sawah di bagian belakang hotel. Kami melalui jalan itu untuk masuk ke sawah keesokan harinya.

Jangan harap menu sarapan yang melimpah seperti di hotel berbintang. Menu memang terbatas tapi itu cukup dengan harga segitu. Yang disediakan nasi goreng, mie goreng, sosis ayam, bacon, blanched veggies, roti (Butter+Spread) dan toaster, jus buah dan dessert jajanan lokal seperti kue dadar gulung. Untuk menginap 1-2 hari, sarapan seperti itu okelah, tidak membosankan.

View dari depan kamar Bakung Ubud Swimming Pool Bakung Ubud Sawah di tengah malam
View dari depan kamar

Saat malam sekembalinya dari makan, hotel ini lebih sunyi lagi dan tenang. Sama seperti jalan menuju ke hotel juga lebih sepi lagi. Saat langit cerah kami dengan gampang melihat banyak bintang diatas sana. Tempat yang baik untuk fotografi bintang karena sedikit polusi cahaya.
Bakung Ubud Resort and Villa bisa dikatakan hotel yang baru beroperasi dua tahun. Mungkin ada banyak hotel tepi sawah di Ubud, mungkin mereka lebih baik atau lebih mewah. Menurut kami untuk harga 500rb semalam, hotel ini value for money.

Saya berharap moga-moga tidak banyak sawah yang dibeli orang dan dijadikan hotel atau villa. Nanti core attraction dari Ubud akan hilang. Saya salut dengan orang yang memasang tanda “NOT FOR SALE” gede-gede ditengah sawah. Semoga tetap bertahan.

Click untuk kembali ke Enjoyable Bali – Intro

Tulisan tentang jalan-jalan yang seru. Ada yang ditulis dan diketik, tergantung keberadaan stylus. Kalau Misael dan Sky sudah besar, mereka bisa baca pengalaman masa kecilnya.