Category Archives: Desa

Enjoyable Bali – Bakung Ubud Resort and Villa

Kamar hotel baru yang cukup besar. Ditengah sawah, tenang tanpa gangguan terlebih lagi malam hari penuh bintang. Ditambah staff yang ramah dan harga yang murah, hotel ini benar-benar value for money.

Seperti yang banyak orang tahu, Ubud ada didataran tinggi dan banyak lahan sawah. Oleh karena itu kami juga tinggal di hotel yang mewah alias mepet sawah. Kami menginap di Bakung Ubud Resort and Villa. Yang sebenarnya satu lahan sawah yang diconvert menjadi villa. Sisi kanan, kiri dan belakang hotel adalah sawah. Walaupun demikian, hotel ini punya rate yang tinggi di booking.com dengan harga yang sangat murah.

Awalnya ragu apa Google mengarahkan dengan benar. Masuk dari Monkey Forest, kami lewat Ubud Palace dan naik lagi. Jalan makin lama makin sempit. Lalu belok kanan nyebrang jembatan dan setelah itu belok kiri lewat jalan aspal makin kecil, muat untuk satu mobil saja. Kalau papasan dengan mobil yang lain pasti roda turun ke tanah. Jarak tinggal 300 meter lagi menurut Google, tapi belum kelihatan ada tanda-tanda hotel. Kanan kiri rumah penduduk dan sawah. Kendaraan terus melaju pelan sambil toleh kanan kiri dan akhirnya ada satu totem bertuliskan Bakung Ubud. Nah itu dia, belok kanan dan saya kira sampai, ternyata belum. Setelah belok kanan yang ada jalan beton kecil selebar satu mobil dan kelihatan ada pagar rumah orang. Ragu kembali, tapi apa boleh buat, sudah kadung masuk. Kalau salah yang putar lagi gimana caranya. Tapi ternyata benar, persis disebelah rumah orang itu adalah hotelnya. Tempat parkirnya tidak luas, tapi sangat cukup untuk parkir.

UBD_6758 UBD_6761 UBD_6784 UBD_6798 UBD_6816

Staff hotelnya ramah dan banyak orang lokal dan bule nginep disana. Kami tinggal di kamar 101 yaitu kamar twin bed dengan standing shower sebesar apartemen studio yang letaknya di depan kolam renang. Hotelnya tenang, bangunan paling tinggi di lantai 3 dengan pemandangannya sawah. Ada jalan tembus ke sawah di bagian belakang hotel. Kami melalui jalan itu untuk masuk ke sawah keesokan harinya.

Jangan harap menu sarapan yang melimpah seperti di hotel berbintang. Menu memang terbatas tapi itu cukup dengan harga segitu. Yang disediakan nasi goreng, mie goreng, sosis ayam, bacon, blanched veggies, roti (Butter+Spread) dan toaster, jus buah dan dessert jajanan lokal seperti kue dadar gulung. Untuk menginap 1-2 hari, sarapan seperti itu okelah, tidak membosankan.

View dari depan kamar Bakung Ubud Swimming Pool Bakung Ubud Sawah di tengah malam
View dari depan kamar

Saat malam sekembalinya dari makan, hotel ini lebih sunyi lagi dan tenang. Sama seperti jalan menuju ke hotel juga lebih sepi lagi. Saat langit cerah kami dengan gampang melihat banyak bintang diatas sana. Tempat yang baik untuk fotografi bintang karena sedikit polusi cahaya.
Bakung Ubud Resort and Villa bisa dikatakan hotel yang baru beroperasi dua tahun. Mungkin ada banyak hotel tepi sawah di Ubud, mungkin mereka lebih baik atau lebih mewah. Menurut kami untuk harga 500rb semalam, hotel ini value for money.

Saya berharap moga-moga tidak banyak sawah yang dibeli orang dan dijadikan hotel atau villa. Nanti core attraction dari Ubud akan hilang. Saya salut dengan orang yang memasang tanda “NOT FOR SALE” gede-gede ditengah sawah. Semoga tetap bertahan.

Click untuk kembali ke Enjoyable Bali – Intro

Way Bungur dan Bandar Lampung

Ini adalah kali pertama saya ke provinsi Lampung. Kebetulan disponsori oleh kantor karena ada keperluan mengaudit supplier. Lokasi factory supplier yang jauh, di Way Bungur (dekat dengan Way Kambas) membuat perjalanan pulang pergi bisa mencapai 7 jam dari tempat menginap di Bandar Lampung. Perjalanan dengan pesawat pun sangat singkat, sampai-sampai snack dibagikan sebelum take-off. Bukan penerbangan yang menyenangkan kalau ingin dipakai buat baca buku, karena saking singkatnya.

Sepuluh catatan tentang perjalanan kali ini:

1. Bandara Raden Inten II jaraknya 45 menit ke Bandar Lampung dengan mobil. Sepanjang jalan dari bandara ke hotel, setiap ruko atau toko dilengkapi dengan Siger (=hiasan di kepala perempuan dengan pakaian adat), sesuai instruksi walikota.

2. Novotel Bandar Lampung punya view yang bagus, menghadap ke Teluk Betung dan perbukitan. Dan sepertinya bangunan yang paling modern disana. Cek beberapa sight dari hotel dibawah ini.

Sunrise after the storm  Look up  Hotel balcony view  clean-cut hill  Full moon sky  Perfect rainbow  Swimming pool  Teluk betung  Room with huge window   Thunderstorm
Sunrise after the storm

3. Makan malam di TripAdvisor recommended places. #1 Taman Santap Rumah Kayu dan #3 Restoran Padang Begadang II. Menurut lidah orang Jawa, semua rasa kurang nendang, kurang bumbu. Rasa asam dan pedas Ikan Pindang kalah dengan rasa manis.

4. Perjalanan ke Way Bungur disuguhi pemandangan area ladang persawahan karena itu mayoritas pekerjaan orang disana. Yang ditanam antara lain: #1 Singkong, #2 Padi #3 Jagung. Singkong dan Jagung ditanam di tempat yang tidak punya akses irigasi. Mereka mengandalkan hujan. Tapi padi ditanam di sawah yang dekat irigasi, banyak air

5. Banyak transmigran Jawa. Sehingga beberapa kota kecil bernama Pekalongan, Purbolinggo, Wates, toko Lamongan atau restoran bernama R.M Muntilan. Bahasa Jawa banyak digunakan disana.

6. Rumah-rumah disana berukuran besar dan sangat besar dengan halaman extra luas yang bisa dipakai parkir truk. Rumah orang Jawa pasti napak tanah. Kalau orang Lampung, rumah panggung. Ada rumah yang di cat atau cuman batu bata, atau dinding bambu. Cek kumpulan foto rumah dibawah ini.

Rumah batu bata    Rumah dengan halaman extra luas    Rumah baru bata    Rumah panggung asli lampung    Rumah panggung asli lampung    Rumah panggung asli lampung    Rumah dinding kayu
Rumah batu bata

7. Kalau malam hari, banyak anak-anak kecil bermain di halaman dan orang tuanya cangkrukan di teras rumah. Mirip dengan suasana di masa masih kelas SD. Sepertinya mereka tidak terlalu suka nonton TV walaupun tiap rumah terlihat punya antena UHF. Pengen simple life, Lampung bisa jadi alternatif kota pensiun.

8. Masuk ke area Way Bungur, warga menjemur ampas singkong yang sudah diekstrak patinya. Menurut orang setempat, setelah kering, ampas ini akan dijual. Sebagian besar ampas dijual ke Bandung sebagai pakai ternak. Dan sebagian kecil, dijual ke pembuat saus tomat botolan (saus abang-abang). Foto dibawah ini adalah kumpulan kegiatan warga yang diambil dari dalam mobil.

Menanam padi   Anak sekolah   Menjemur onggok (ampas singkong)   Cangkrukan   Toko Lamongan   Ngopi   Berangkat sekolah
Menanam padi

9. Saya tidak sempat putar-putar kota Bandar Lampung, karena kembali lagi ke kota sudah telat, pukul 9 malam di hari pertama. Di jam segitu,  kota sudah menjadi sepi, banyak restoran yang mulai tutup. Malam kedua pun saya makan di hotel karena baru kembali pukul 10.

10. Terakhir, kopi lampung … TOP!!