Category Archives: Amed

Enjoyable Bali – Warung Sabar Amed

Pemiliknya sangat ramah. Setiap tamu dianggap benar benar seperti orang bertamu ke rumahnya. Makanan enak dengan porsi besar. Bahkan pemiliknya sangat helpful.

Trip Advisor tidak menunjukkan lokasi tepat dari warung yang menduduki peringkat 8 dari 50 resto di Amed pada waktu itu. Oleh karena itu saya telpon saja nomor yang muncul di situs TA. Pemilik mengangkatnya dan memberitahu lokasi kira-kiranya, bahkan… menawarkan diri untuk menjemput kami di Puri Wirata.

Sebelum menyusuri Amed kami makan siang dulu di Warung Sabar. Anak-anak makan sosis dan fries, sedangkan istri nasi campur dan saya pilih babi kecap. Siang itu kami makan dengan lahap dan kenyang, mengingat malam sebelumnya kami kecewa dengan restoran The Grill. Malam hari pun demikian. Setelah menikmati Sunset di Tulamben, saya pergi sendiri kembali ke Warung Sabar dan membeli beberapa menu untuk take away karena anak-anak sudah capek setelah bermain dipantai.  Saat saya menunggu pesanan selesai dimasak, malam itu Warung Sabar kedatangan banyak tamu bule, dan hanya saya turis domestik sendirian. Menurut pemilik, memang tidak banyak orang Indo yang datang ke Amed.  Kebanyakan mereka memilih Bali Selatan, karena dekat dengan obyek wisata dan keramaian daripada ke Bali Timur yang jauh.

Lokasinya Warung Sabar ada di 8°20’59.3″S 115°40’51.4″E

Di hari terakhir setelah check out Puri Wirata, kami makan siang terlebih dahulu di Warung Sabar. Dan saya terpikir untuk minta tolong hal yang tidak umum. Saya minta bantuan ke pemilik apakah dia memiliki pembersih mobil yang bisa menghilangkan goresan. Ya… mobil sewaan memang tergores tipis oleh stang motor, dan saya ingin membersihkannya. Dengan tanpa ragu-ragu, Pak Ketut si pemilik bilang kalau dia akan pulang ke rumah dan mengambilkan perlalatan poles mobil. Dia pun pergi naik motor. Selagi dia pergi, saya buru-buru menghabiskan nasi goreng, supaya saya punya cukup waktu untuk menggosok mobil sekembalinya Pak Ketut.  Tidak lama kemudian, dia pun kembali dengan sekeranjang pembersih dan lapnya. Tidak  berhenti disitu, dia juga ikut menggosok. Karena sungkan dan merasa tidak pantas, saya memaksa untuk melakukannya sendiri. Menurut saya, bantuan dia sudah lebih dari cukup. Akhirnya percakapan terjadi dan lebih kenal tentang bagaimana dia hidup di Amed dan bagaimana dia membuka warung ini. Mobilpun akhirnya kinclong kembali dan goresan tersamarkan.

Dari kejadian itu, tidak heran kalau review di Trip Advisor banyak menyebutkan kalau pemilik/staff di Warung ini ramah. Tidak hanya ramah tapi suka membantu.

Mungkin tempat ini adalah tempat yang terbaik untuk mendapatkan makanan enak yang value for money di Amed. Link Trip Advisor, klik saja http://www.tripadvisor.co.id/ShowUserReviews-g608478-d4104406-r160777062-Warung_Sabar-Amed_Abang_Bali.html

Enjoyable Bali – Amed

Selain umumnya dikenal sebagai tempat snorkeling dan diving, menurut kami pantai yang pristine di Amed adalah tempat yang indah untuk menikmati sunset dan sunrise. Satu tempat, komplit!

Setelah pegunungan, sekarang tiba waktunya kami pindah ke daerah pesisir pantai. Jarak dari Ubud ke hotel di Amed sekitar 66 km. Sebenarnya Amed adalah desa nelayan yang isolated dan miskin sampai sejak tahun 90-an, saat orang mulai tahu Amed sebagai destinasi wisata diving dan snorkeling. Dan sejak tahun itu, ekonomi di daerah ini berkembang. Lokasi Amed ada di Bali Timur. Dari Ubud bisa dicapai sekitar 3 jam.

Kembali Google Maps menjadi penunjuk arah. Kami melalui jalan selebar tiga lajur yang bagus nan mulus. Yaitu jalan Ir Ida Bagus Mantra yang terbentang dari ujung By Pass Ngurah Rai hingga jalan menuju Padang Bai. Selepas jalan lebar dengan suguhan laut, kami mulai lewat jalan naik turun gunung dan berkelok-kelok. Tapi semua jalan bagus, tidak ada jalan yang rusak, berlubang atau bergelombang parah (saya bandingkan dengan daerah Pelabuhan Ratu ke Sawarna Banten). Bali punya kualitas jalan yang sangat baik. Sama seperti pengalaman saat mencari Bakung Ubud, kami juga meragukan lokasi Puri Wirata Resort and Spa. Tapi lagi-lagi Google Maps spot-on, petanya akurat. Setelah menemukan lokasi Puri Wirata, kami nyadar kalau kedua hotel yang kami tinggali so far ini bener-bener mepet dengan POInya. Kalau Ubud mepet sawah, kalau Puri Wirata mepet pantai.

Hari sudah sore, sekitar pukul 16:30 saat kami tiba di Puri Wirata, Setelah tas masuk dan melihat view dari balkon dan roof top, kami turun ke pesisir pantai yang berbatu di belakang hotel. Saat itu air laut sedang surut jadi kami bisa berjalan agak ketengah sambil main lempar batu.

IMG-20150717-WA0009
Pantai berbatu dibelakang hotel. Sky suka lempar-lempar batu.

Saat matahari mulai tenggelam, suasana berangsur menjadi tenang. Kami hanya duduk berempat di atas batu lalu nyanyi-nyanyi lagu kesukaan anak-anak sampai hari menjadi gelap dan bulan muncul dari sisi timur.  Tak lama kemudian banyak bintang mulai terlihat diatas sana.

Keesokan harinya, coba menyusuri jalan dengan mobil setelah makan siang karena ingin tahu ada apa di sekitar hotel.  Sepanjang jalan yang kecil itu kami melihat banyak hotel bagus dan juga sedang dibangun. Kami lihat juga pantai berpasir coklat termasuk lokasi diving “Japanese Shipwreck”. Di satu titik yang cukup tinggi kami berhenti, putar mobil dan parkir. Kami turun sejenak dan melihat laut yang luas disisi kanan, sedangkan sisi kiri garis pantai yang panjang dengan latar belakang bukit. Benar-benar pemandangan yang sangat indah.

Sebelumnya kami juga sempat menepi karena setelah melihat kebawah ada air laut yang jernih berwarna biru kehijauan. Saking beningnya sampai-sampai batu-batu dibawahnya pun terlihat. Beberapa bule juga terlihat mengapung dengan perlengakapan snorkeling. Kamipun turun dari mobil dan menuruni tangga dari batu yang sudah disemen. Tidak ada pesisir pantai atau batu kecil dibawah sana kecuali batu besar yang kita perlu hati-hati saat melangkah dan tidak terburu-buru. Sekali lagi kami dibuat takjub dengan pemandangan laut luas dan yang masih pristine.

Sunset

Saat waktu sudah menjelang sore kami mencari pantai berpasir untuk menikmati sunset dengan background gunung Agung. Kami menemukan tempatnya yang juga tidak jauh dari hotel. Sesampainya disana kami baru sadar kalau di Amed ada banyak variasi pantai. Mulai dari berbatu cadas, batuan kerikil, pasir hitam sampai pasir coklat. Tempat untuk menikmati sunset ini adalah Amed Tulamben. Saat matahari mulai rendah, pemandangan indahpun kembali muncul.  Menurut kami, Amed adalah salah satu tempat yang indah untuk melihat sunset. Anak-anak terus bermain sampai basah kuyup  hingga benar- benar gelap. Kami kembali ke parkiran mobilpun ditemani dengan lampu senter dari HP. Foto ini adalah pesanan istri, karena dia ingin satu gambar yang mewakili kami berempat yaitu gunung, laut, matahari dan langit.

Sunrise

Matahari terbit sekitar pukul 6 pagi. Sambil mengantuk, anak-anakpun kami gendong masuk ke mobil setengah jam sebelumnya, lalu kami menuju pantai yang menghadap timur, yaitu pantai dengan pasir coklat. Sesampainya disana, sepertinya hanya kami berempat yang ada di lokasi sepagi itu. Sebelum kami sampai, langit merah sudah mulai terlihat dikejauhan. Lalu saya menepikan mobil sejak untuk mengambil  foto dari kamera HP. Difoto itu terlihat, saat cuaca cerah, pulau Gili (Lombok) dengan puncak gunung yang bergerigi terlihat dengan jelas.

Sunrise
Menjelang sunrise

Dari tempat saya berdiri untuk mengambil foto diatas, ternyata titik itu tidak jauh dari akses untuk menuju ke pantai, lalu akhirnya kami ke pantai.

Misael masih diliputi rasa kantuk, moodnya masih ga karuan karena di masih ingin tidur. Lain halnya dengan Sky, dia sudah energized walaupun belum begitu cukup tidur.

Tidak lama setelah kami tiba dipantai, mataharipun mulai keluar. Kami bersyukur bisa menikmati satu paket sunrise dan sunset di area yang sama. Bersyukur juga atas alam ciptaan yang sangat indah.

Sebelum meninggalkan Amed, saya sempatkan untuk mengambil pasir pantai untuk ditaruh di akuarium di rumah. Sama seperti saya juga mengambil pasir hitam saat menikmati sunset di Tulamben dengan harapan untuk bisa kembali lagi kesini.

Enjoyable Bali – Puri Wirata Resort and Spa, Amed

Begitu check-in nama istri saya sudah ada terpampang di papan receptionist. Setelah cek in barulah kami tahu kalau tinggal di kamar nomor 3, yang ternyata satu dari dua kamar favorit di Puri Wirata. Mengapa favorit? karena kamar No.3 dan No.4 punya roof top dengan pemandangan langsung ke laut. Roof topnya dilengkapi empat kursi berjemur dan dua payung besar. Kamar ini juga strategis karena restoran dan kolam renang persis disebelahnya. Selain itu mobil bisa persis diparkir dibelakangnya. Hasilnya, kami tidak perlu jauh-jauh dan capek untuk mengangkut koper gede-gede.
Resort ini punya dua kolam renang. Satu kolam di depan restoran punya kedalaman 3 meter dan kolam lainnya hanya 1.5 meter. Kolam yang paling dalam sering dipakai untuk kursus diving.

IMG-20150717-WA0014 IMG-20150717-WA0017 IMG-20150717-WA0009 IMG-20150717-WA0011

Kami sampai di Puri Wirata sekitar pukul 16:30, dan setelah barang-barang masuk kamar kami keluar ke belakang hotel untuk ke pantai. Saat itu air sedang surut, jadi bisa berjalan agak ke tengah. Pantai di belakang hotel bukan pantai berpasir tapi berbatu. Sebenarnya sedikit kecewa karena yang diharapkan adalah pantai berpasir, karena image pantai dikepala adalah pasir. Saat ketemu berbatu… kecewa. Walau demikian, ada positifnya yaitu tidak perlu repot2 untuk membersihkan diri dari pasir pas kembali ke kamar. Sore itu kami habiskan di tepi pantai berbatu, duduk disana, nyanyi-nyanyi dengan anak-anak, main lempar-lempar batu sambil melihat sunset. Suasana disana sangat tenang. Tidak banyak orang, benar-benar tempat escape yang pas, yang kami cari.

Sunset dari Puri Wirata Langit malam dari taman di Puri Wirata Kolam renang 3 meter Puri Wirata dari sisi pantai Full moon saat di Puri Wirata
Sunset dari Puri Wirata

Kembali ke soal kamar. Saat masuk kamar pertama kali, kami terkesan dengan kasur twin bed yang dilengkapi dengan kelambu. Tidak hanya itu, ada autan dan obat nyamuk elektrik. Jangan-jangan hotel ini banyak nyamuknya, jadi keluar masuk pintu atau balkon kami selalu segera menutupnya kembali. Tapi setelah dipikir-pikir (dan memang benar apa yang kami tebak), kalau banyak tamu bule yang senang tidur dengan pintu balkon terbuka. Dengan begitu mereka tidur sambil dengar deburan ombak, sounds very nice. Oleh karena itu hotel sediakan tiga lapis perlindungan nyamuk: obat nyamuk elektrik, autan dan kelambu. Buat kami, demi rasa aman dan nyaman, tutup balkon dan pakai AC baru bisa tidur.

Malam itu kami bingung mau makan dimana. Walaupun nama Warung Sabar terlihat di Trip Advisor, tapi tidak lokasinya. Kami menelusuri jalan masuk kembali. Dan kami putuskan untuk beli makanan di restoran GRILL yang terlihat homy dan juga ramai. Menu disana bisa dibilang mahal. Apa boleh buat, mahal mungkin karena tempatnya juga terpencil. Kami pesan sate ayam dan kebab untuk take away. Sesampainya di hotel, perasaan campur aduk karena porsi yang sangat minimal. Sate ayam dan kebab semua tampak seperti sate saja, cuman 4 tusuk masing-masing. Saus cuman sesendok makan dan nasi cuman sekepal, kira-kira 3x suap orang dewasa. Jadi lebih baik jangan ke resto ini, sama sekali tidak value for money. Ditengah perasaan “rugi” seperti itu, kita tetap bersyukur karena masih ada makanan. Dan pasti tidak akan kembali ke resto itu.

Sunrise dari Puri Wirata   Bangun tidur dan duduk di tepi pantai   Main pasir   Renang   Capek lalu tertidur di siang hari yang panas   Renang   Renang
Sunrise dari Puri Wirata

Pagi harinya, saya dan Sky bangun lebih awal. Dan kami langsung ke belakang hotel untuk melihat sunrise. Saat itu menjelang pukul 7 pagi, matahari sudah agak tinggi dari permukaan air laut tapi belum begitu panas. Air laut masih pasang, jadi batas pantai yang kemarin sore kami lihat dibawah, pagi itu tidak terlihat lagi. Kami hanya sebentar disana dan segera kembali ke kamar.

Sarapan di Puri Wirata bukan model buffet melainkan paket menu sarapan dan ala carte. Kita diminta memilih menu, apakah home made bread atau mie goreng ayau nasi goreng. Lalu memilih fruit platter atau fresh juice. Dan terakhir milih 2 eggs anyway (terserah mau diapain: boiled hard/soft, omelet atau scrambelled. Karena jatah breakfast untuk dua pax, maka kekurangannya ditutupin sama ala carte. Dari sisi menu, pilihannya cukup buat sarapan. Setelah sarapan kami santai kembali ke kamar, kemudian renang, lalu makan siang dan mencari pantai berpasir untuk menikmati sunset. Kami menikmati liburan yang seperti ini. Tidak ada target harus ke objek wisata manapun yang penting bisa menikmati waktu liburan.

Pada waktu check out, kami terpukau dengan pajak hotel, yaitu 20%. Walaupun demikian, rate permalam di Puri Wirata lebih murah jika dibandingkan dengan resort yang lain di Amed, so still good place to stay.

Click untuk kembali ke Enjoyable Bali – Intro