Category Archives: Warung

Enjoyable Bali – Brazilian Aussie BBQ Kuta

Hanya untuk penggemar daging. Sampai kita bilang stop, kalau tidak, daging itu akan terus mendatangi.

Restoran ini dikenalkan oleh teman di bulan Maret 2015 yang lalu sewaktu ada acara kantor di Bali. Restoran ini adalah buffet daging asal Aussie ala Brazilian BBQ. Maksudnya adalah daging sapi/lamb/pork/chicken/sosis yang akan diantar ke meja kita begitu selesai dipanggang. All meat you can eat. Pelayan akan datang dengan daging  baru selesai dipanggang. Saat di slice, daging itu terlihat sangat lembut dan seketika juga air liur sudah memenuhi mulut.

Satu persatu daging berdatangan ke kita selama kartu sisi hijau terlihat oleh pelayannya. Anak-anak makan dengan nasi, sedangkan kami orang tuanya cukup dengan daging saja. Harganya tidak begitu mahal kalau dilihat dari ukuran porsi dan rasa jika dibandingkan dengan harga restoran untuk sepiring steak 200 gram.

Walaupun demikian, kami juga melayangkan feedback ke Chefnya karena lamb yang datang di kali kedua sangat asin dibandingkan dengan lamb yang pertama kali kami rasakan saat awal makan. Kami minta lamb BBQ dari batch yang lain, karena rasa asinnya sudah kelewatan. Tidak lama saat kami menunggu, Executive Chef dari Brazil menghampiri kami dan menjelaskan mengapa asin. Kami bisa terima penjelasannya, dan minta dia juga mengerti kalau kami tidak bisa memakannya karena sangat asin. Jadi dia tidak akan mengrill  baru, itu intinya dan rasa asin bagi dia adalah konsekuensi normal dari proses BBQnya. Dari situ saya ingin berbagi tips tentang makan disini:

  1. Dalam oven, semua daging disusun bertingkat. Daging itu di panggang dengan memutar-mutar. Karena bertingkat, deretan daging yang di susunan bawah akan lebih asin setiap kali dihidangkan karena terkena tetesan lemak dan saus marinade dari daging di lapisan atas. Tetesan itulah yang bikin asin. Mintalah bagian daging yang di dalam saat di slice, rasanya pas. Tidak terlalu asin. Ini adalah solusi dari feedback yang saya berikan.
  2. Eat slowly. Daging cepat bikin kenyang dan kenyangnya dalam waktu lama karena lambung sulit memprosesnya. Makan yang terburu-buru (karena daging terus berdatangan) akan membuat cepat kenyang. Pause saja supply daging dengan membalikkan kartu ke sisi merah. Setelah piring kosong, jadikan hijau kembali.
  3. Terakhir, kalau mulai terasa eneg, mintalah nanas BBQ. Rasa asam dan manis alami dari nanas akan menghilangkan rasa eneg dan sekaligus membersihkan pallet kita untuk mencoba menu yang lain.

Malam itu perut penuh, kenyang dan kami tidak ingin ketemu daging untuk beberapa waktu kedepan. It was also another good meal. Saking kenyangnya kami tidur cepat sekembalinya ke hotel Grand Barong, ya… kami semua tidur lebih awal, karena capek dan kekeyangan.

Klik disini untuk melihat ulasannya di Trip Advisor http://www.tripadvisor.co.id/Restaurant_Review-g297697-d4039441-Reviews-Brazilian_Aussie_BBQ-Kuta_Bali.html

Enjoyable Bali – Warung Sabar Amed

Pemiliknya sangat ramah. Setiap tamu dianggap benar benar seperti orang bertamu ke rumahnya. Makanan enak dengan porsi besar. Bahkan pemiliknya sangat helpful.

Trip Advisor tidak menunjukkan lokasi tepat dari warung yang menduduki peringkat 8 dari 50 resto di Amed pada waktu itu. Oleh karena itu saya telpon saja nomor yang muncul di situs TA. Pemilik mengangkatnya dan memberitahu lokasi kira-kiranya, bahkan… menawarkan diri untuk menjemput kami di Puri Wirata.

Sebelum menyusuri Amed kami makan siang dulu di Warung Sabar. Anak-anak makan sosis dan fries, sedangkan istri nasi campur dan saya pilih babi kecap. Siang itu kami makan dengan lahap dan kenyang, mengingat malam sebelumnya kami kecewa dengan restoran The Grill. Malam hari pun demikian. Setelah menikmati Sunset di Tulamben, saya pergi sendiri kembali ke Warung Sabar dan membeli beberapa menu untuk take away karena anak-anak sudah capek setelah bermain dipantai.  Saat saya menunggu pesanan selesai dimasak, malam itu Warung Sabar kedatangan banyak tamu bule, dan hanya saya turis domestik sendirian. Menurut pemilik, memang tidak banyak orang Indo yang datang ke Amed.  Kebanyakan mereka memilih Bali Selatan, karena dekat dengan obyek wisata dan keramaian daripada ke Bali Timur yang jauh.

Lokasinya Warung Sabar ada di 8°20’59.3″S 115°40’51.4″E

Di hari terakhir setelah check out Puri Wirata, kami makan siang terlebih dahulu di Warung Sabar. Dan saya terpikir untuk minta tolong hal yang tidak umum. Saya minta bantuan ke pemilik apakah dia memiliki pembersih mobil yang bisa menghilangkan goresan. Ya… mobil sewaan memang tergores tipis oleh stang motor, dan saya ingin membersihkannya. Dengan tanpa ragu-ragu, Pak Ketut si pemilik bilang kalau dia akan pulang ke rumah dan mengambilkan perlalatan poles mobil. Dia pun pergi naik motor. Selagi dia pergi, saya buru-buru menghabiskan nasi goreng, supaya saya punya cukup waktu untuk menggosok mobil sekembalinya Pak Ketut.  Tidak lama kemudian, dia pun kembali dengan sekeranjang pembersih dan lapnya. Tidak  berhenti disitu, dia juga ikut menggosok. Karena sungkan dan merasa tidak pantas, saya memaksa untuk melakukannya sendiri. Menurut saya, bantuan dia sudah lebih dari cukup. Akhirnya percakapan terjadi dan lebih kenal tentang bagaimana dia hidup di Amed dan bagaimana dia membuka warung ini. Mobilpun akhirnya kinclong kembali dan goresan tersamarkan.

Dari kejadian itu, tidak heran kalau review di Trip Advisor banyak menyebutkan kalau pemilik/staff di Warung ini ramah. Tidak hanya ramah tapi suka membantu.

Mungkin tempat ini adalah tempat yang terbaik untuk mendapatkan makanan enak yang value for money di Amed. Link Trip Advisor, klik saja http://www.tripadvisor.co.id/ShowUserReviews-g608478-d4104406-r160777062-Warung_Sabar-Amed_Abang_Bali.html

Enjoyable Bali – Warung Gemitir

Kami pesan menu andalan yaitu Ayam Sereh dan Ayam Santan. Kuahnya penuh rasa tapi ringan terasa pas saat dimakan dengan nasi. Value for money sekaligus cuci mata dengan pemandangan lembah yang indah.

Hari kedua di Ubud kami rencanakan untuk ke Kebun Raya. Google menunjukkan jalannya. Perjalanan dari Ubud ke Kebun Raya sangat lancar karena aspal yang mulus. Infrastuktur jalan Bali memang benar-benar diperhatikan dan bagus demi menunjang pariwisata. Waktu itu kira-kira pukul 1 siang dan kami mulai lapar. Kami melihat ada iklan spanduk Bumbu Desa tinggal beberapa kilometer lagi. Tanpa ragu kita putuskan untuk ke Bumbu Desa, karena sudah familiar. Tidak lama berselang, kami melihat iklan Warung Taman Gemitir. Warung ini lebih dekat dengan posisi kami saat itu dan iklan itu menyatakan jika warung ini  menyediakan masakan khas Bali dengan menu andalan Ayam Sereh dan Ayam Santan. Seketika itu kami berpaling dari masakan Sunda ke masakan Bali.

Gerbang Warung Taman Gemitir

Kami parkir diseberang jalan lalu menyebrang. Dari luar tempat ini terlihat keren karena banyak bunga-bunga dan utamanya Bunga Gemitir yang berwarna oranye. Saat masuk lebih dalam, kami langsung jatuh cinta dengan balkonnya karena pemandangan yang luar bisa menakjubkan.

IMG-20150717-WA0020
Mama lagi suapin Kakak Mis dan Sky

Kami makan di meja panjang sambil melihat kebawah walaupun sesekali panas karena matahari yang tidak tertutup awan, pemandangan indah itu yang buat kita stay sampai makanan habis.

Setelah makan kenyang dan puas, kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bali dan sampai disana kurang dari 15  menit.

Enjoyable Bali – Warung Bintang Ubud dan restoran lainnya

Menu Western dan Indonesian di harga mulai 25 ribu hingga 60 ribu. Rasa enak, dan porsi pas. Termasuk ranking 12 Trip Advisor pada waktu kami di Ubud awal Juli 2015.

Hari pertama kita di Ubud kami habiskan dengan jalan-jalan. Trip Advisor memang benar—benar jadi eyes and ears untuk melihat makanan apa yang enak, murah, value for money dan tidak jauh-jauh dari hotel. Dari Trip Advisor kami menemukan satu warung yang beneran tidak jauh dari hotel (jauhnya sekitar 5 menit nyetir), namanya Warung Bintang Bali (peringkat 12 dari 500 restoran di Ubud). Harga makanan yang murah dan enak menurut saya yang bikin tempat ini begitu dikenal. Kami makan disini dua kali, yaitu makan siang pertama dan makan siang terakhir di Ubud. Sebagai gambaran, makan dan minum untuk tiga orang habis sekitar 120 ribu saja (bandingkan dengan makan di Solaria untuk tiga orang). Menunya lebih ke arah Western dan Indonesian. Menu yang kami coba adalah Grilled Chicken, Small Rib, Spagetti Chicken and Cheese. Semuanya enak!.

Tempatnya di memang tidak besar, 25 orang bersamaan akan bikin warung ini terlihat penuh. Dekorasinya hippies, pemandangan sawah dan cuma terima uang tunai. Penyajian makanan memang sedikit lama sekitar 20-30 menit, jadi butuh kesabaran. Jangan bandingan dengan restoran di bandara atau di kota besar yang sudah ada pre/half cooked. Disini semua dibikin dari mentah. Dan sebenarnya itu yang bikin kualitas makanannya lebih baik. Lagian, saat di Bali, kita memang tidak perlu buru-buru, santai saja. Saat kita ke Amed, kita harap menemukan warung yang sebagus Bintang Bali Ubud.

Map di Trip Advisor hasil inputan orang untuk Warung Bintang tidak akurat. Lokasi di google ada di 8°28’55.0″S 115°16’14.5″E yang saya save langsung di lokasi.

Hari pertama memang santai, cuma keliling-keliling Ubud. Setelah makan siang di Warung Bintang, kami menuju Café Le Petit Paris yang lokasinya di jalan menuju Monkey Forest. Kesulitan dengan membawa mobil cuma satu, yaitu cari tempat parkir karena jalan yang sempit. Jadi sore itu kami parkir di depan Monkey Forest lalu jalan naik menuju cafe. Tidak jauh, hanya sekitar 7 menitan. Menurut kami, Ubud paling pas dijalanin on-foot atau strolling dengan motor.

Afternoon coffee
Afternoon coffee

Duduk dibelakang Café ini bikin ngantuk karena angin semilir dari sawah berhembus masuk. Secangkir kopi bali, mango lassie dan coklat panas cocok buat nemenin sore hari. Dan saya pun bisa turun ke sawah, jalan di pematangnya untuk melihat-lihat. Tentu saja, anak-anak langsung mengikuti. Trip Advisor memang trusted partner untuk cari informasi makan-minum di tempat yang sama sekali kita tidak tahu. Terus terang walaupun dekat dengan babi guling Ny Oka, saya tidak mampir kesana. Bagi saya terlalu asin, tidak bisa dinikmati, bisa kena darah tinggi nanti 🙂

Warung Bintang Bali kami pandang sebagai warung yang benar-benar value for money. Selain itu kami juga makan di warung lain sekedar coba-coba. Dan ada satu tempat yang kami coba dan tidak direkomendasikan karena tidak value for money dan rasa tidak enak sama sekali. Namanya Bandega, di Jalan Raya Ubud. Kami coba sate babi disana. Porsi kecil, tidak ada rasa bahkan sate disajikan tidak panas. So far, Warung Bintang masih ada di top of mind.

Setelah check out di Bakung Ubud, kami makan siang dulu di Warung Bintang Bali supaya hati senang, puas dan kenyang sebelum melanjutkan 3 jam perjalanan ke Amed.

Find more info of this place from Trip Advisor link here http://www.tripadvisor.co.id/Restaurant_Review-g297701-d4297784-Reviews-Warung_Bintangbali-Ubud_Bali.html