ntl_4481

Our Christmas Tree

Yang berbeda dari suasana Natal tahun ini adalah hadirnya pohon Natal dirumah kami. Sejak kami menikah hingga anak kedua lahir, masih saja males untuk memiliki pohon Natal. 

Alasan males ini karena:

1. Pikirannya selalu tentang pohon Natal yang dijual di ACE Hardware/Matahari/Dept Store etc. Yaitu pohon dari plastik yang mesti dipasang, dibongkar dan disimpan. Tahun depan mesti dibersihin dari debu untuk dibongkar dan pasang lagi. Apalagi gudang rumah kami ada di attic, males naik turun. Ribet!!

2. Tidak ada pohon Natal plastik yang awet. Yang awet bisa berjuta-juta harganya. Jadi beli pohon Natal selalu campur dengan ungkapan “Yah putus…” atau  “yah ilang…” Apalagi dengan kehadiran Sky yang selalu penasaran. Bisa-bisa itu pohon jadi pitak.

3. Harga makin ngga masuk akal. Toko yang jual bener-bener ngeduk keuntungan yang banyak. Harga dan value ga banding.

Di sisi lain, Misael selalu nanyain “Pa… mau beli Christmas tree?”, dan tentunya tidak cuman nanya sekali saja. Sering!!. Lalu munculah ide untuk punya pohon Natal yang asli, yaitu cemara hidup yang dihias. Ide itu makin kuat saja saat lihat teman yang juga beli pohon cemara asli dan dijadikan pohon Natal setelah dipasang aksesoriesnya.

Terus terang saja, saya baru kenal beberapa jenis pohon cemara bulan Desember ini. Misalnya:

1. Cemara lilin (=kurus tinggi daun kecil-kecil). Kalau dijadikan pohon natal, kesannya kok pohonnya cungkring (=kurus). Cocok jadi pagar daripada pohon Natal.

2. Cemara afrika, seperti yang dibeli teman. Kalau mau gampang ya bisa beli ditempat dia beli, yaitu Jakarta. Pohon cemara afrika ini cakep dan cocok untuk dijadikan pohon Natal karena bagian bawah gendut dan mengerucut keatas. Cuman karena belinya di Jakarta, mikir-mikir jauh dan macet cuman untuk beli pohon.

3. Ketiga cemara udang. Entah kenapa disebut udang mungkin karena bentuknya lebih mirip cemara yang dibonsai. Ini malah ga cocok sama sekali dengan pohon Natal.

Istri coba nyari-nyari di Green Mall (sebutan kumpulan penjual bunga di deket rumah). Dan ga nemu pohon yang bagus. Ternyata cari cemara pas ngga gampang juga. Sebagai temporary measure sambil dapet yang pas, maka pohon kamboja di depan rumah pun dihias dengan lampu kelap-kelip. Lumayan menghibur anak sementara walaupun akhirnya dia nanya “Papa itu Christmas tree Misael ?”, “Nggak Mis… tunggu ya”, jawab saya.

Sambil nunggu pohon cemara, pohon kamboja dibikin kelap-kelip
Sambil nunggu pohon cemara, pohon kamboja dibikin kelap-kelip

Akhirnya, minggu 21 Desember pagi kami pergi ke Green Mall lagi dan menemukan Cemara yang pas. Namanya Cemara Kipas dari Medan. Bagian bawah gendut dan mengerucut keatas. Daun-daun melebar seperti kipas. Kata pemilik nurserynya, pohon itu baru datang beberapa hari yang lalu. Karena sudah puas melihat-lihat, maka langsung beli dan minta dibantuin untuk menanam. Sore harinya, pohon setinggi 100 cm-an itu ditanam halaman depan rumah.

Ini dia pohon natal dari cemara hidup
Ini dia pohon natal dari cemara hidup

Setelah lampu dari pohon kamboja dipindahkan ke cemara, dan aksesories ditambahkan, jadilah Christmas tree. Tidak lupa dengan bintang dipucuk pohon yang dibuat dari kawat yang ditekuk-tekuk dan diberi lampu.

Suasana Natal tahun ini berbeda. Walaupun inti Natal bukan di pohon tapi di berita Natal. Kelap-kelip pohon itu dimalam hari membuat halaman lebih hidup dan rumah lebih tentram.

Merry Christmas
Merry Christmas

Semoga pohon cemara kecil ini bisa hidup dihalaman rumah. Dengan harapan tahun depan kami bisa foto lagi disamping pohon ini.

Merry Christmas from Jo Dinatas for you and family.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *