DSC02370

Way Bungur dan Bandar Lampung

Ini adalah kali pertama saya ke provinsi Lampung. Kebetulan disponsori oleh kantor karena ada keperluan mengaudit supplier. Lokasi factory supplier yang jauh, di Way Bungur (dekat dengan Way Kambas) membuat perjalanan pulang pergi bisa mencapai 7 jam dari tempat menginap di Bandar Lampung. Perjalanan dengan pesawat pun sangat singkat, sampai-sampai snack dibagikan sebelum take-off. Bukan penerbangan yang menyenangkan kalau ingin dipakai buat baca buku, karena saking singkatnya.

Sepuluh catatan tentang perjalanan kali ini:

1. Bandara Raden Inten II jaraknya 45 menit ke Bandar Lampung dengan mobil. Sepanjang jalan dari bandara ke hotel, setiap ruko atau toko dilengkapi dengan Siger (=hiasan di kepala perempuan dengan pakaian adat), sesuai instruksi walikota.

2. Novotel Bandar Lampung punya view yang bagus, menghadap ke Teluk Betung dan perbukitan. Dan sepertinya bangunan yang paling modern disana. Cek beberapa sight dari hotel dibawah ini.

Sunrise after the storm  Look up  Hotel balcony view  clean-cut hill  Full moon sky  Perfect rainbow  Swimming pool  Teluk betung  Room with huge window   Thunderstorm
Sunrise after the storm

3. Makan malam di TripAdvisor recommended places. #1 Taman Santap Rumah Kayu dan #3 Restoran Padang Begadang II. Menurut lidah orang Jawa, semua rasa kurang nendang, kurang bumbu. Rasa asam dan pedas Ikan Pindang kalah dengan rasa manis.

4. Perjalanan ke Way Bungur disuguhi pemandangan area ladang persawahan karena itu mayoritas pekerjaan orang disana. Yang ditanam antara lain: #1 Singkong, #2 Padi #3 Jagung. Singkong dan Jagung ditanam di tempat yang tidak punya akses irigasi. Mereka mengandalkan hujan. Tapi padi ditanam di sawah yang dekat irigasi, banyak air

5. Banyak transmigran Jawa. Sehingga beberapa kota kecil bernama Pekalongan, Purbolinggo, Wates, toko Lamongan atau restoran bernama R.M Muntilan. Bahasa Jawa banyak digunakan disana.

6. Rumah-rumah disana berukuran besar dan sangat besar dengan halaman extra luas yang bisa dipakai parkir truk. Rumah orang Jawa pasti napak tanah. Kalau orang Lampung, rumah panggung. Ada rumah yang di cat atau cuman batu bata, atau dinding bambu. Cek kumpulan foto rumah dibawah ini.

Rumah batu bata    Rumah dengan halaman extra luas    Rumah baru bata    Rumah panggung asli lampung    Rumah panggung asli lampung    Rumah panggung asli lampung    Rumah dinding kayu
Rumah batu bata

7. Kalau malam hari, banyak anak-anak kecil bermain di halaman dan orang tuanya cangkrukan di teras rumah. Mirip dengan suasana di masa masih kelas SD. Sepertinya mereka tidak terlalu suka nonton TV walaupun tiap rumah terlihat punya antena UHF. Pengen simple life, Lampung bisa jadi alternatif kota pensiun.

8. Masuk ke area Way Bungur, warga menjemur ampas singkong yang sudah diekstrak patinya. Menurut orang setempat, setelah kering, ampas ini akan dijual. Sebagian besar ampas dijual ke Bandung sebagai pakai ternak. Dan sebagian kecil, dijual ke pembuat saus tomat botolan (saus abang-abang). Foto dibawah ini adalah kumpulan kegiatan warga yang diambil dari dalam mobil.

Menanam padi   Anak sekolah   Menjemur onggok (ampas singkong)   Cangkrukan   Toko Lamongan   Ngopi   Berangkat sekolah
Menanam padi

9. Saya tidak sempat putar-putar kota Bandar Lampung, karena kembali lagi ke kota sudah telat, pukul 9 malam di hari pertama. Di jam segitu,  kota sudah menjadi sepi, banyak restoran yang mulai tutup. Malam kedua pun saya makan di hotel karena baru kembali pukul 10.

10. Terakhir, kopi lampung … TOP!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *