Situ Bagendit, Garut

Pemandangan alam di kaki gunung Guntur yang berbukit-bukit dan sawah terasiring dibawahnya membuat kagum sepanjang perjalanan dari Bandung ke Situ Bagendit.

Mata yang biasanya melihat padatnya jalanan dan toko-toko di mall kali itu disegarkan. Tidak sedikit saya ber wow-wow sambil nyetir di jalan yang lebarnya dua mobil. Saat itu kami mengambil jalan memutar. Di pertigaan Nagrek kami berjalan lurus yang seharusnya belok kanan menuju Garut. Walaupun demikian memutar, kami melalui jalan dengan pemandangan alamnya tidak mengecewakan.

Tujuan awal ke Garut tanggal 16 Mei yang lalu sebenarnya Candi Cangkuang. Kami berangkat dari Bandung selepas makan siang dan mengikuti arahan Google Maps tapi tak kunjung menemukan Candi Cangkuang. Itu karena setelah melewati pertigaan Nagrek kami yang seharusnya belok kanan, terlanjur lurus sehingga  harus melalui jalan memutar untuk mencapai Garut, kalau tidak kami bisa sampai di Tasikmalaya. Ternyata jalan memutar itu membuat kami ketemu dengan Situ Bagendit, salah satu danau yang dikenal di Jawa Barat. Saat itu sudah 10 menit lewat pukul 3 sore dan karena capek kelamaan di jalan, kami putuskan untuk berhenti, merubah tujuan dari Candi ke Situ.

Situ Bagendit, view dari tengah danau

View danau ini sangat indah. Ada banyak balai yang beralaskan tikar untuk duduk atau piknik. Misael senang dengan kolam pancing kecil. Beberapa kali dia ke kolam itu dengan pancing mini yang ujungnya magnet. Setelah selesai makan, diapun langsung kembali ke kolam itu, ngomong ke penjaganya minta ijin untuk mincing lagi. Saat si Kakak duduk rapi mancing, adiknya main air dan lempar-lempar ikan sampai air nyiprat-nyiprat dan bikin celananya agak basah. Walaupun kebersihan dan kerapihan tempat istirahat itu sangat jauh dari standar, hati senang melihat anak-anak merasa nyaman dengan mainannya. Dan ternyata mainan jaman dulu dan sekarang tidak beda.

Mancing ala Mis dan bersepeda di tengah danau

Setelah puas mancing Misael ingin  naik kuda dan kereta diesel yang track rel ovalnya mengitari area istirahat. Tapi apa boleh buat, semua atraksi itu tutup saat waktu mendekati pukul 5 sore, tidak ada lagi kereta dan kuda. Akhirnya kami berempat naik bebek yang dikayuh dan menuju ke tengah danau. Dari tengah danau, suasana benar-benar berbeda. Kalau melihat kedepan kita disuguhi pemandangan sunset dibalik gunung. Dan kalau melihat kebelakang, kita lihat tumbuhan yang rimbun. Saat sudah ditengah danau, Situ ini terasa istimewa.

Sunset dari Situ Bagendit

Kami adalah rombongan yang terakhir yang meninggalkan Situ Bagendit. Dan malam itu kami sampai Bandung pukul 20:30 atau 2.5 jam di jalan karena macet.

Harapan saya, tempat ini dikelola dengan baik kelak. Harga tiket dinaikkan, ke 20 ribu saja, maka sebenarnya ada ruang untuk membayar orang untuk memelihara tempat, ngebersihin enceng gondok yang makin subur dan ngebetulin balai yang sudah reyot. Selain itu moga-moga kesadaran pengunjung untuk memelihara fasilitas dan tidak buang sampah sembarangan bisa berubah. Biar Situ Bagendit bisa makin terkenal.

Unusual Lembang Attraction

Ada satu lahan di daerah Lembang yang dimiliki oleh UPI (= Universitas Pendidikan Indonesia). Lahan itu kosong dan diusahakan orang dengan menanam sayur seperti jagung, singkong dan brokoli. Saat berkunjung ke rumah Oppung, kami main ke lahan itu. Lokasinya di Jalan Kolonel Masturi. Sesampainya di lahan itu terlihat jelas perbedaan antara Misael dan Sky.

Terabas , duduk dan main tanah

Sky langsung nyelonong turun ke tanah sedangkan Misael masih lihat-lihat. Misael memilih jalan yang padat, Sky main terabas saja. Saat capek, Misael ngerajuk minta gendong atau minta alas sandal buat duduk di tanah, sedangkan Sky langsung duduk ditanah. Misael pegang daun-daun, dan sesekali pegang tanah. Sebaliknya Sky ngaduk-ngaduk tanah dengan jari bahkan “membabtis” diri dengan mengguyur kepala dengan tanah. Itu hanya sebagian perbedaan antara si kakak dan adiknya.

Ditengah kebun brokoli

Walaupun demikian mereka merasa senang karena main di luar dengan udara segar dan sejuk. Terlihat bedanya saat mereka ada di mall atau tempat belanja, walaupun capek bermain diluar, mereka terlihat segar. Tak lupa juga Mama Misael dapat hadiah dua pohon cabe yang sudah berbuah lebat. Dan moga-moga pohon cabenya bisa hidup dan juga berbuah kalau ditanam di Cikarang karena tidak hanya pohon yang dibawa, tanah Lembang (yang terkenal subur) sekalian dibawa.

 

Oleh-oleh yang diharapkan berbuah lebat di Cikarang

Malam itu kami makan dengan sambal dari cabe yang pohonnya kami bawa pulang. Hanya cabe, bawang putih dan garam yang diuleg, enak dan segar. Cabe fresh from the tree. What an unusual activities in Lembang.

Salam dari Bandung

 

Our Christmas Tree

Yang berbeda dari suasana Natal tahun ini adalah hadirnya pohon Natal dirumah kami. Sejak kami menikah hingga anak kedua lahir, masih saja males untuk memiliki pohon Natal. 

Alasan males ini karena:

1. Pikirannya selalu tentang pohon Natal yang dijual di ACE Hardware/Matahari/Dept Store etc. Yaitu pohon dari plastik yang mesti dipasang, dibongkar dan disimpan. Tahun depan mesti dibersihin dari debu untuk dibongkar dan pasang lagi. Apalagi gudang rumah kami ada di attic, males naik turun. Ribet!!

2. Tidak ada pohon Natal plastik yang awet. Yang awet bisa berjuta-juta harganya. Jadi beli pohon Natal selalu campur dengan ungkapan “Yah putus…” atau  “yah ilang…” Apalagi dengan kehadiran Sky yang selalu penasaran. Bisa-bisa itu pohon jadi pitak.

3. Harga makin ngga masuk akal. Toko yang jual bener-bener ngeduk keuntungan yang banyak. Harga dan value ga banding.

Di sisi lain, Misael selalu nanyain “Pa… mau beli Christmas tree?”, dan tentunya tidak cuman nanya sekali saja. Sering!!. Lalu munculah ide untuk punya pohon Natal yang asli, yaitu cemara hidup yang dihias. Ide itu makin kuat saja saat lihat teman yang juga beli pohon cemara asli dan dijadikan pohon Natal setelah dipasang aksesoriesnya.

Terus terang saja, saya baru kenal beberapa jenis pohon cemara bulan Desember ini. Misalnya:

1. Cemara lilin (=kurus tinggi daun kecil-kecil). Kalau dijadikan pohon natal, kesannya kok pohonnya cungkring (=kurus). Cocok jadi pagar daripada pohon Natal.

2. Cemara afrika, seperti yang dibeli teman. Kalau mau gampang ya bisa beli ditempat dia beli, yaitu Jakarta. Pohon cemara afrika ini cakep dan cocok untuk dijadikan pohon Natal karena bagian bawah gendut dan mengerucut keatas. Cuman karena belinya di Jakarta, mikir-mikir jauh dan macet cuman untuk beli pohon.

3. Ketiga cemara udang. Entah kenapa disebut udang mungkin karena bentuknya lebih mirip cemara yang dibonsai. Ini malah ga cocok sama sekali dengan pohon Natal.

Istri coba nyari-nyari di Green Mall (sebutan kumpulan penjual bunga di deket rumah). Dan ga nemu pohon yang bagus. Ternyata cari cemara pas ngga gampang juga. Sebagai temporary measure sambil dapet yang pas, maka pohon kamboja di depan rumah pun dihias dengan lampu kelap-kelip. Lumayan menghibur anak sementara walaupun akhirnya dia nanya “Papa itu Christmas tree Misael ?”, “Nggak Mis… tunggu ya”, jawab saya.

Sambil nunggu pohon cemara, pohon kamboja dibikin kelap-kelip
Sambil nunggu pohon cemara, pohon kamboja dibikin kelap-kelip

Akhirnya, minggu 21 Desember pagi kami pergi ke Green Mall lagi dan menemukan Cemara yang pas. Namanya Cemara Kipas dari Medan. Bagian bawah gendut dan mengerucut keatas. Daun-daun melebar seperti kipas. Kata pemilik nurserynya, pohon itu baru datang beberapa hari yang lalu. Karena sudah puas melihat-lihat, maka langsung beli dan minta dibantuin untuk menanam. Sore harinya, pohon setinggi 100 cm-an itu ditanam halaman depan rumah.

Ini dia pohon natal dari cemara hidup
Ini dia pohon natal dari cemara hidup

Setelah lampu dari pohon kamboja dipindahkan ke cemara, dan aksesories ditambahkan, jadilah Christmas tree. Tidak lupa dengan bintang dipucuk pohon yang dibuat dari kawat yang ditekuk-tekuk dan diberi lampu.

Suasana Natal tahun ini berbeda. Walaupun inti Natal bukan di pohon tapi di berita Natal. Kelap-kelip pohon itu dimalam hari membuat halaman lebih hidup dan rumah lebih tentram.

Merry Christmas
Merry Christmas

Semoga pohon cemara kecil ini bisa hidup dihalaman rumah. Dengan harapan tahun depan kami bisa foto lagi disamping pohon ini.

Merry Christmas from Jo Dinatas for you and family.

 

Susahnya Move On

Sudah dua tahun berlalu sejak saya dan keluarga kembali. Walaupun sangat singkat, tapi enam bulan disana benar-benar disyukuri.

Hidup disana sangat menyenangkan. Kalau mau dirunut, kira-kira ini daftar TOP 10nya:

1. Alam bagus, udara bersih, ga ada flu selama 6 bulan, sekeluarga!

2. Air minum tinggal putar keran

3. Dairy product melimpah dan kualitas ga perlu dibahas

4. Akses transportasi mudah. Sampe pucuk gunungpun ada (walaupun ga murah). Stay tune kalau-kalau tageskarte ada lagi

5. Berat badan jadi turun, karena jalan kemana-mana. Terkadang lari ngejar kereta atau bus, naik turun menuju ke kantor, jalan-jalan ke gunung, hutan lalu belok ke danau

6. Punya banyak saudara-saudara baru

7. Ada gereja, bahasa Indonesia lagi

8. Internet kencang ga karuan

9. Mendadak jadi mahir masakan nusantara dan bangga bisa ngeshare makan nasi padang.

Dan yang terakhir adalah ..

EasyJet_logo_svg

10. Yes! itu dia

Walaupun ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan baik di Tanah Air hidup disana tetaplah menyenangkan. Enam bulan disyukuri, karena kami terima sebagai anugerah. Tidak banyak yang punya kesempatan menikmati TOP 10 diatas bersama keluarga.

Memori itu selalu diputar ulang setiap kali saya kembali kesana walau cuman seminggu lamanya. Jadi makin susah move on.

Semoga tidak lagi susah move on.

Paris Part I

Ini adalah perjalanan sekitar 6 bulan lalu, selagi ada di Swiss.
Selama tinggal di Swiss, Perancis adalah negara terakhir yang dikunjungi. Entah kenapa sejak awal tidak begitu tertarik dengan Paris. Alasan paling mendasar adalah keamanan. High-skilled professional pickpockets are there. And they are just like us, the commoners.

Tapi waktu itu tinggal satu bulan lagi, dan tinggal satu weekend saja yang tersisa untuk jalan-jalan, jadi karena didorong rasa tidak mau rugi, kami akhirnya ke Paris.

Lumayan berat bangun pagi hari itu. Suasana pukul 5 di Jumat 12 Oktober 2012 sama seperti masih subuh karena sunrise masih 2.5 jam lagi. Dari ujung ke ujung, jalanan sepi. Hanya suara koper yang digeret aja yang bikin ribut sepanjang jalan ke stasiun Serrieres. Pagi itu kami bertiga dan Sela naik kereta tujuan Neuchatel ke Paris Gare de Lyon.

Bawaan tidak begitu banyak untuk travel 2 malam, dan juga tidak bawa stroller meskipun dengan resiko harus  gendong Misael kalau dia capek.

Semua itinerary Istri yang siapin, saya ngikut saja. Kami nginep di Central Hotel Paris yang cuman 7 menit jalan dari Gare Montparnasse. Selain ratenya cuman 180 Euro untuk dua malam (no breakfast), receptionnya bisa bahasa Inggris (ini penting) dan free wifi di kamar. Selain itu ada banyak restoran asia disepanjang jalan menuju hotel, jadi kalau ada masalah urusan selera…bisa diatasi dengan mudah.

Empat jam di TGV membosankan juga. Dari google map emang terlihat jauh juga jarak Frasne ke Gare de Lyon. Tapi ada baiknya juga kereta di Perancis (dan juga di Jerman), saat beli tiket kita bisa reserve tempat duduk, jadi lebih secure. Tapi buat Swiss yang berpenduduk 8 juta jiwa, reservasi ga begitu perlu kali ya hehehe…

Setelah lama menunggu, sampailah kami di Gare de Lyon Paris. Tujuan pertama siang itu adalah bukan menuju hotel. Langsung tancap gas. Mengandalkan satu aplikasi yang namanya METRO kami berhasil nyari koneksi subway sampai ke Sacre Coeur sebagai tujuan pertama. Awalnya kami celingukan di stasiun karena nyari mesin tiket ga nemu. Pengennya beli tiket dimesin saja daripada beli diloket yang antriannya terlihat panjang. Tapi ternyata cuman itu saja cara beli tiket, mesti di loket, mesti ngantri, ya sudahlah ABB (=apa boleh buat). Lagian karena niatnya liburan jadi ga ada yang ngeburu-buru juga … jalani saja.

Hari pertama di Paris hanya 2 destinasi : Sacre Coeur dan Eiffel. Lebih baik sedikit-sedikit tapi banyak yang bisa dieksplor, experience dan memorize, ketimbang lompat sana-sini demi foto “i am here” kind of. Bukannya ngatain salah, hanya saja bukan style.

image

Destination 1: Basilica Sacre Coeur
Dari Gare de Lyon,  pakai dua line saja. Stop di St Lazare  (dari line 14)  dan ganti, lalu turun di Abbesess (dari line 12). Yang spesial dari Abbesess ini adalah : untuk keluar kepermukaan tanah kita mesti pake tangga (lupakan lift) yang jumlahnya lbh dari 150 anak tangga. Orang dewasa kalah sama anak umur 3 tahun. Misael naik dengan lancarnya sedangkan orang tuanya mesti nyetop dia buat pause dan abis sudah napas begitu sampai diatas. Huh huh huh… ngambil napas dan lepas jaket karena gerah berkeringat.

Dari situ jalan sebentar dan terlihat pelataran Sacre Coeur. Dan ketemu tangga lagi, karena letak basilicanya diatas bukit. Udah ga mau lagi ketemu tangga. Mau naik funiculair aja, yang ternyata ga perlu bayar lagi karena udah punya daily pass yang dibeli di Gare de Lyon dengan masa laku sampe jam 12 malam. Naik bus, naik metro tinggal masuk saja selama masa berlaku. Hemat!.

Boleh masuk ke dalam Sacre Coeur, gratis. Tapi tidak boleh ambil foto. Kali ini bener-bener ‘taat’ aturan, kamera bener-bener disimpen di tasnya. Istri udah minta berkali-kali untuk motret didalam gereja ini. Tapi dengan jawaban yang sama, tetep ga mau motret. Ini karena efek dari jalan-jalan di Basilica St Peter di Vatican. Itu gereja yang paling indah, serius… paling indah sedunia. Seperti abis makan coklat Lindt atau keju Gruyere, trus makan Silver Queen atau Kraft. Seperti itulah berada didalam Sacre Coeur, hahahaha….

image

Sekitar jam 2-an kami mulai turun. Dan aga segerombolan orang afrika yang ngerubungin kita, sekitar 5 orang. Ada yang nepuk bahu dan sok akrab. Pikiran udah jelek aja karena diri sudah sangat cautious dan stay alert sejak awal. Ini orang mau nyopet/rampok/nodong atau apa nih. Tripod besi dipegang erat di tangan kanan dan udah dalam posisi ready kalau sewaktu-waktu ngambil tindakan. Sedangkan tangan kiri berusaha melepaskan tangan orang ambon itu. “Don’t touch!!, Stay Away!!” teriakku. Istri dan Misael bukan ‘target’ jadi mereka sudah jalan didepan. Orang afrika itu mulai provokatif dengan ngumpat-ngumpat F**k You, untungnya ga kepancing dan ninggalin mereka. Ga ada kehilangan atau apapun. Dompet ada dibagian dasar tas ransel. Tertimbun dibawah bekal dan popok Misael (tips dari Vitalina Djohan nih).
Dikemudian hari, baru tahu kalau gerombolan afrika itu maunya ngiket cincin/gelang ke jari atai lengan, trus kita diperas 20 euro karena udah pake cincing/gelang itu. Kata Omo, mereka nggak akan kontak fisik tapi main kata-kata kasar saja karena kalau mukul pasti salah dan bisa urusan sama polisi. Bukannya diskriminatif, dan juga bukan selalu kebetulan juga kalau perilaku yang ditunjukkan oleh siapapun seems typical.

Huah…laper… ga mikir panjang langsung masuk ke resto Cambodia diarah yang sama dengan arah menuju ke stasiun Abbesess. Makan dulu disana dengan enaknya, kenyangnya dan… murahnya hahahaha… jika dibanding negeri Swiss yang tahulah gimana…

Hari sudah agak sore, selanjutnya menuju destination 2 : Eiffel
Cukup transfer metro satu kali dan terlihatlah menara itu begitu keluar dari stasiun. Woooowwwww… wooowwww…keren.

image

Literally stunned dengan pemandangannya. Terlebih lagi saat berdiri dibawahnya. Memandang empat kaki eiffel terbentang ditiap sudut, mendongak keatas sambil melihat struktur menara yang mengagumkan itu benar-benar pengalaman. Biasanya ada empat elevator disetiap kaki menara yang bisa digunakan untuk naik ke puncak. Tapi hari itu hanya dua elevator yang berfungsi. Akibatnya antrian ratusan (mungkin sudah mencapai angka ribu) yang ngantri. Pikirku buat apa buang waktu hanya untuk naik keatas, mending duduk di taman sambil mandangin Eiffel yang cantik itu.

image

Ada banyak patung beruang disana. Dan beruang-beruang itu menggambarkan satu negara.

image

Mana Indonesia… mana Indonesia… tolah-toleh sambil ngurutin patung beruang yang diurutin berdasarkan abjad. Dan akhirnya ketemu juga…beruangnya Indonesia seperti Bagong hahahaha…

image

Hari itu janjian ketemu dengan Cedric dan Mbak Puji yang lagi punya acara berdua (anak-anaknya ga dibawa), smart!!. Bisa ditiru kalau Misael udah gede ntar 🙂
Seneng rasanya kalau bisa jalan bareng-bareng dengan mereka.

image

Hari mulai malam dan kami mulai berjalan menuju ke stasiun, dalam perjalanan kami keheranan dengan saking banyaknya orang yang berhenti dan motret ke arah Eiffel. Ternyata… lampu Eiffel baru saja dinyalakan, kami ga tahu karena berjalanan membelakangi. Cantik banget, tapi karena ribet ngeluarin kamera dan pasti bakal lama jadi cukup dipandangin Eiffel yang menyala cantik dengan latar langit sore yang membiru (blue hour).

Kami makan malam French cuisine. Enaknyo… apalagi ditraktir sama Cedric, jadi dobel enaknya. Merci Cedric, Mbak Puji.

Malam itu kami balik ke hotel dan istirahat dengan puas. Tahu bagus dan terjangkaunya Paris dari Neuchatel, harusnya udah pergi kesini sebelumnya. That’s how we called a day.

Hari berikutnya akan banyak dihabiskan di satu tujuan yaitu Musee du Louvre. Seharian disana, dari jam buka sampai jam tutup. Amazing!!

 

Tulisan tentang jalan-jalan yang seru. Ada yang ditulis dan diketik, tergantung keberadaan stylus. Kalau Misael dan Sky sudah besar, mereka bisa baca pengalaman masa kecilnya.