All posts by Andi

Enjoyable Bali – Intro

From the cold air of a forest on 1450 meters high to the hot temperature on pristine beach, we spent a total of 421.4 km on the road to the north center, east and south of the island with 32 liters of gas supply. For 5 days, 4 people stayed in 3 hotels as 1 family who really enjoyed Bali, so much.

Terus terang ini adalah kali pertama kami ke Bali sekeluarga. Sebelumnya saya atau istri ke Bali hanya kalau ada acara kantor. Tiap hari ya isinya workshop, training, meeting atau apapun itu. Tidak heran kalau kami kenal Bali cuman itu itu saja, Kuta dan Kuta lagi. Bali pasti isinya bukan itu saja, maka untuk jalan-jalan ini kami ingin ke tempat yang berbeda. Istri sayalah yang menyiapkan itinerary dan dia tahu kalau saya suka nature, ke gunung atau dataran tinggi, jadi dia pilihkan Ubud. Sedangkan dia sendiri suka tempat yang ada airnya, apakah itu danau, bendungan, pantai atau tempat dengan air. Maka untuk dirinya sendiri, dia memilih Amed, desa kecil di pesisir Bali Timur. Anak-anak belum punya preferensi. Kita tanyakan ke mereka apa mereka suka atau tidak dengan pilihan kita seraya membujuk. Dan mereka mengangguk saja. Karena bagi anak-anak yang hampir 6 dan 2 tahun, yang penting adalah kolam renang dan bermain pasir. Selebihnya mereka ngikut.

Rute Bali
Rute Bali

Mobil sewaan sesuai pesanan sudah stand-by di area penjemputan begitu landing sekitar pukul 10 pagi. Setelah semua bagasi dimuat dan bensin diisi penuh, kami langsung nyetir menuju Ubud. Bagi saya waktu itu adalah kali pertama nyetir di Bali. Oleh karena itu HP selalu tertancap dengan charger mobil yang dibawa dari rumah, agar bisa terus mantengin Google Maps yang dipercaya penuh (karena tidak tahu jalan sama sekali) untuk mengantar ke hotel di Ubud. And so the adventure begun that day, on June 30th.
Rute kami selama di Bali seperti gambar diatas, click beberapa link dibawah ini untuk membaca apa yang kami alami di hotel, tempat makan dan juga tempat wisata selama 5 hari 4 malam di Bali.

Menikmati fasilitas hotel juga termasuk agenda liburan. Ini hotel selama di Bali:
Bakung Ubud Resort and Villa
Puri Wirata Resort and Spa
Grand Barong Resort Kuta

Tempat makan, bahkan untuk makan siang dan malam:
Warung Bintang Bali dan Café Resto Ubud yang lain
Warung Taman Gemitir
Warung Sabar Amed
Brazilian Aussie BBQ Kuta

Tempat wisata. Memang bukan tipe kami untuk mengunjungi banyak tempat. Kami lebih suka berlama-lama di satu tempat, senikmat-nikmatnya.
Kebun Raya Bali / Eka Darma Botanical Garden
Sunset dan Sunrise di Amed

Way Bungur dan Bandar Lampung

Ini adalah kali pertama saya ke provinsi Lampung. Kebetulan disponsori oleh kantor karena ada keperluan mengaudit supplier. Lokasi factory supplier yang jauh, di Way Bungur (dekat dengan Way Kambas) membuat perjalanan pulang pergi bisa mencapai 7 jam dari tempat menginap di Bandar Lampung. Perjalanan dengan pesawat pun sangat singkat, sampai-sampai snack dibagikan sebelum take-off. Bukan penerbangan yang menyenangkan kalau ingin dipakai buat baca buku, karena saking singkatnya.

Sepuluh catatan tentang perjalanan kali ini:

1. Bandara Raden Inten II jaraknya 45 menit ke Bandar Lampung dengan mobil. Sepanjang jalan dari bandara ke hotel, setiap ruko atau toko dilengkapi dengan Siger (=hiasan di kepala perempuan dengan pakaian adat), sesuai instruksi walikota.

2. Novotel Bandar Lampung punya view yang bagus, menghadap ke Teluk Betung dan perbukitan. Dan sepertinya bangunan yang paling modern disana. Cek beberapa sight dari hotel dibawah ini.

Sunrise after the storm  Look up  Hotel balcony view  clean-cut hill  Full moon sky  Perfect rainbow  Swimming pool  Teluk betung  Room with huge window   Thunderstorm
Sunrise after the storm

3. Makan malam di TripAdvisor recommended places. #1 Taman Santap Rumah Kayu dan #3 Restoran Padang Begadang II. Menurut lidah orang Jawa, semua rasa kurang nendang, kurang bumbu. Rasa asam dan pedas Ikan Pindang kalah dengan rasa manis.

4. Perjalanan ke Way Bungur disuguhi pemandangan area ladang persawahan karena itu mayoritas pekerjaan orang disana. Yang ditanam antara lain: #1 Singkong, #2 Padi #3 Jagung. Singkong dan Jagung ditanam di tempat yang tidak punya akses irigasi. Mereka mengandalkan hujan. Tapi padi ditanam di sawah yang dekat irigasi, banyak air

5. Banyak transmigran Jawa. Sehingga beberapa kota kecil bernama Pekalongan, Purbolinggo, Wates, toko Lamongan atau restoran bernama R.M Muntilan. Bahasa Jawa banyak digunakan disana.

6. Rumah-rumah disana berukuran besar dan sangat besar dengan halaman extra luas yang bisa dipakai parkir truk. Rumah orang Jawa pasti napak tanah. Kalau orang Lampung, rumah panggung. Ada rumah yang di cat atau cuman batu bata, atau dinding bambu. Cek kumpulan foto rumah dibawah ini.

Rumah batu bata    Rumah dengan halaman extra luas    Rumah baru bata    Rumah panggung asli lampung    Rumah panggung asli lampung    Rumah panggung asli lampung    Rumah dinding kayu
Rumah batu bata

7. Kalau malam hari, banyak anak-anak kecil bermain di halaman dan orang tuanya cangkrukan di teras rumah. Mirip dengan suasana di masa masih kelas SD. Sepertinya mereka tidak terlalu suka nonton TV walaupun tiap rumah terlihat punya antena UHF. Pengen simple life, Lampung bisa jadi alternatif kota pensiun.

8. Masuk ke area Way Bungur, warga menjemur ampas singkong yang sudah diekstrak patinya. Menurut orang setempat, setelah kering, ampas ini akan dijual. Sebagian besar ampas dijual ke Bandung sebagai pakai ternak. Dan sebagian kecil, dijual ke pembuat saus tomat botolan (saus abang-abang). Foto dibawah ini adalah kumpulan kegiatan warga yang diambil dari dalam mobil.

Menanam padi   Anak sekolah   Menjemur onggok (ampas singkong)   Cangkrukan   Toko Lamongan   Ngopi   Berangkat sekolah
Menanam padi

9. Saya tidak sempat putar-putar kota Bandar Lampung, karena kembali lagi ke kota sudah telat, pukul 9 malam di hari pertama. Di jam segitu,  kota sudah menjadi sepi, banyak restoran yang mulai tutup. Malam kedua pun saya makan di hotel karena baru kembali pukul 10.

10. Terakhir, kopi lampung … TOP!!

Museum Geologi Bandung

Museum ini sudah lama direkomendasikan oleh istri. Entah sudah berapa kali diajak sampai akhirnya  tanggal 1 Juni yang lalu kami sekeluarga kesana. Museum dua lantai ini membuat saya aware kalau benar apa yang dikatakan para Capres dalam debat tahun lalu tentang kekayaan Indonesia akan sumber daya alam dan mineral. Museum ini mengatakannya dengan sangat jelas.

Lokasi Museum ini ada di depan Gedung Sate tempat Pak Gub dan Wakilnya yang dobel job itu ngantor. Museum yang terdiri dari dua lantai ini hanya butuh 3000 perak saja untuk mendapatkan tiket masuk. Harga yang sangat-sangat murah. Bahkan lebih mahal parkir di mall atau sekantong kacang kulit.

Berdiri dipintu utama, sebuah replika Mammoth yang dikelilingi pita pembatas. Sayap sebelah kiri lantai pertama berisi eksibisi tentang struktur geologi . Globe yang besar itu bisa diputar untuk melihat bagian lapisan kulit bumi sampe ke inti (core). Disamping itu juga ada pojokan dengan 6 LCD proyektor khusus yang menampilkan gambar melengkung tentang tata surya. Dan bagi yang suka bebatuan, disisi sini juga dipajang berbagai macam batu-batu menurut saya lebih bagus dalam bentuk bongkahan besar daripada sudah nempel di cincin.

Mineral Mineral Green Stone  White Stone  Blue stone Pakistan  Almethyst (Akik)  Creme Stone
Mineral

Di sayap kanan pintu masuk menampilkan penemuan fosil termasuk yang dikatakan “missing link” dunia evolusi. Disini terdapat icon dari museum yang sering dibicarakan orang, yaitu replika kerangka T-Rex.

T-rex  Kerbau  Akibat letusan gunung merapi Nov 2010 Mammoth
T-rex

Naik ke bagian atas kita langsung bisa menebak kalau bagian museum ini lebih membicarakan tentang eksplorasi hasil sumber daya alam yang ditambang. Mulai tambang mineral, gas alam sampai minyak. Beberapa replika oil rig milik PERTAMINA, Conoco (yang sdh bangkrut) dan Total ada disini). Hall dilantai dua ini memisahkan dua area. Sebelah kiri tangga lebih menunjukkan hasil pengolahan barang tambang dalam kehidupan sehari-hari misalnya semikonduktor, logam untuk blok mesin, besi untuk kitchen ware dan lain sebagainya. Selain itu juga ada eksibisi khusus yaitu motor, TV, termos, radio, CD player, rice cooker yang meleleh akibat awan panas yang menerjang desa di lereng merapi 2010 yang lalu. Ngeri juga melihatnya. Sebaliknya, sebelah kanan tangga berisi eksibisi eksplorasi minyak dan gas bumi.

DSC04687 DSC04688 DSC04722 DSC04723 DSC04726 DSC04774

Anak-anak juga happy berada disini. Si kakak Mis tidak senang dengan area yang remang-remang. Menurut dia “Scary”. Dia lebih senang melihat fosil dinosaurus dan fosil manusia purba. Sedangkan si kecil Sky suka lari sana-sini, naik batu bahkan naik ke panggung tempat fosil-fosil itu dipajang.

Sebenarnya ada banyak bagian dari museum ini yang sudah dimodernisasikan, ruangan, ambience, lighting sudah modern. Kalau ada kesempatan coba mampir ke museum ini, bagus untuk anak-anak yang lagi sekolah dan juga refresh pelajaran geografi kita dulu. Jangan heran kalau Museum ini tidak pernah sepi pengunjung karena banyak rombongan anak-anak sekolah datang dengan beberapa bus, bergerak dengan pakaian seragam sambil bawa buku dan alat tulis, dan rame.

Kalau ada waktu ke Bandung, yuk kunjungi Museum Geologi, satu jam sudah cukup untuk melihat semua. Recommended!

Situ Bagendit, Garut

Pemandangan alam di kaki gunung Guntur yang berbukit-bukit dan sawah terasiring dibawahnya membuat kagum sepanjang perjalanan dari Bandung ke Situ Bagendit.

Mata yang biasanya melihat padatnya jalanan dan toko-toko di mall kali itu disegarkan. Tidak sedikit saya ber wow-wow sambil nyetir di jalan yang lebarnya dua mobil. Saat itu kami mengambil jalan memutar. Di pertigaan Nagrek kami berjalan lurus yang seharusnya belok kanan menuju Garut. Walaupun demikian memutar, kami melalui jalan dengan pemandangan alamnya tidak mengecewakan.

Tujuan awal ke Garut tanggal 16 Mei yang lalu sebenarnya Candi Cangkuang. Kami berangkat dari Bandung selepas makan siang dan mengikuti arahan Google Maps tapi tak kunjung menemukan Candi Cangkuang. Itu karena setelah melewati pertigaan Nagrek kami yang seharusnya belok kanan, terlanjur lurus sehingga  harus melalui jalan memutar untuk mencapai Garut, kalau tidak kami bisa sampai di Tasikmalaya. Ternyata jalan memutar itu membuat kami ketemu dengan Situ Bagendit, salah satu danau yang dikenal di Jawa Barat. Saat itu sudah 10 menit lewat pukul 3 sore dan karena capek kelamaan di jalan, kami putuskan untuk berhenti, merubah tujuan dari Candi ke Situ.

Situ Bagendit, view dari tengah danau

View danau ini sangat indah. Ada banyak balai yang beralaskan tikar untuk duduk atau piknik. Misael senang dengan kolam pancing kecil. Beberapa kali dia ke kolam itu dengan pancing mini yang ujungnya magnet. Setelah selesai makan, diapun langsung kembali ke kolam itu, ngomong ke penjaganya minta ijin untuk mincing lagi. Saat si Kakak duduk rapi mancing, adiknya main air dan lempar-lempar ikan sampai air nyiprat-nyiprat dan bikin celananya agak basah. Walaupun kebersihan dan kerapihan tempat istirahat itu sangat jauh dari standar, hati senang melihat anak-anak merasa nyaman dengan mainannya. Dan ternyata mainan jaman dulu dan sekarang tidak beda.

Mancing ala Mis dan bersepeda di tengah danau

Setelah puas mancing Misael ingin  naik kuda dan kereta diesel yang track rel ovalnya mengitari area istirahat. Tapi apa boleh buat, semua atraksi itu tutup saat waktu mendekati pukul 5 sore, tidak ada lagi kereta dan kuda. Akhirnya kami berempat naik bebek yang dikayuh dan menuju ke tengah danau. Dari tengah danau, suasana benar-benar berbeda. Kalau melihat kedepan kita disuguhi pemandangan sunset dibalik gunung. Dan kalau melihat kebelakang, kita lihat tumbuhan yang rimbun. Saat sudah ditengah danau, Situ ini terasa istimewa.

Sunset dari Situ Bagendit

Kami adalah rombongan yang terakhir yang meninggalkan Situ Bagendit. Dan malam itu kami sampai Bandung pukul 20:30 atau 2.5 jam di jalan karena macet.

Harapan saya, tempat ini dikelola dengan baik kelak. Harga tiket dinaikkan, ke 20 ribu saja, maka sebenarnya ada ruang untuk membayar orang untuk memelihara tempat, ngebersihin enceng gondok yang makin subur dan ngebetulin balai yang sudah reyot. Selain itu moga-moga kesadaran pengunjung untuk memelihara fasilitas dan tidak buang sampah sembarangan bisa berubah. Biar Situ Bagendit bisa makin terkenal.

Unusual Lembang Attraction

Ada satu lahan di daerah Lembang yang dimiliki oleh UPI (= Universitas Pendidikan Indonesia). Lahan itu kosong dan diusahakan orang dengan menanam sayur seperti jagung, singkong dan brokoli. Saat berkunjung ke rumah Oppung, kami main ke lahan itu. Lokasinya di Jalan Kolonel Masturi. Sesampainya di lahan itu terlihat jelas perbedaan antara Misael dan Sky.

Terabas , duduk dan main tanah

Sky langsung nyelonong turun ke tanah sedangkan Misael masih lihat-lihat. Misael memilih jalan yang padat, Sky main terabas saja. Saat capek, Misael ngerajuk minta gendong atau minta alas sandal buat duduk di tanah, sedangkan Sky langsung duduk ditanah. Misael pegang daun-daun, dan sesekali pegang tanah. Sebaliknya Sky ngaduk-ngaduk tanah dengan jari bahkan “membabtis” diri dengan mengguyur kepala dengan tanah. Itu hanya sebagian perbedaan antara si kakak dan adiknya.

Ditengah kebun brokoli

Walaupun demikian mereka merasa senang karena main di luar dengan udara segar dan sejuk. Terlihat bedanya saat mereka ada di mall atau tempat belanja, walaupun capek bermain diluar, mereka terlihat segar. Tak lupa juga Mama Misael dapat hadiah dua pohon cabe yang sudah berbuah lebat. Dan moga-moga pohon cabenya bisa hidup dan juga berbuah kalau ditanam di Cikarang karena tidak hanya pohon yang dibawa, tanah Lembang (yang terkenal subur) sekalian dibawa.

 

Oleh-oleh yang diharapkan berbuah lebat di Cikarang

Malam itu kami makan dengan sambal dari cabe yang pohonnya kami bawa pulang. Hanya cabe, bawang putih dan garam yang diuleg, enak dan segar. Cabe fresh from the tree. What an unusual activities in Lembang.

Salam dari Bandung

 

Museum Nasional, Jakarta

Masuk ke Museum Nasional mengingatkan kalau Indonesia begitu besar dan luar biasa kaya akan sejarahnya. Ini membuat saya sejenak lupa dengan kegaduhan parpol, saling serang polisi dan KPK dan komentar-komentar sok tahu pengamat tentang pemerintahan.

Letaknya persis di depan halte busway Monas arah ke Harmoni. Ada dua gedung, lama dan baru. Gedung baru punya 4 lantai eksibisi yang disusun berdasarkan tema seperti jaman prasejarah, jaman kerajaan hindu beserta prasastinya, pengetahuan, perhiasan emas dan keramik.

View Monas dari lantai 4 gedung baru

Penataan gedung baru membawa kesan kalau Museum ini sedang dimodernisasikan. Tidak hanya dengan AC yang lebih sejuk, tapi juga lantai bagus dan tata pencahayaan yang jauh lebih baik. Kontrasnya bisa dilihat di gedung lama, persis disebelahnya. Yaitu gedung satu lantai memanjang kebelakang dengan beberapa ruangan berisi benda-benda adat mulai dari suku batak, jawa, asmat (dan banyak lagi, tidak ingat satu-satu). Kami melihat alat-alat ritual, alat musik, patung dan pakaian adat yang ada di Indonesia. Di sisi gedung ini juga arca-arca dari batu. Menurut kami, museum ini menarik karena bisa belajar sedikit tentang isi Indonesia yang kaya akan budaya. Dan jelas budaya asli selalu berkaitan dengan agama asli suku-suku Indonesia: anismisme dan dinamisme. Beberapa tempat memang terasa spooky, tapi itu perasaan saja.

Kid’s Corner: Meja untuk mewarnai dan membatik

 

Museum ini juga memperhatikan edukasi sejarah untuk anak-anak. Ada Kid’s Corner yang letaknya di gedung baru. Satu ruangan besar penuh warna dengan berbagai macam mainan masa kecil kita. Sebut saja dakon, bekel, gasing, lompat petak dan kuda lumping. Semua bisa dimainkan disana. Kalau ada pengajar, maka anak-anak juga bisa belajar membatik. Selain itu, ada tempat beraktivitas mewarnai, dengan crayon atau mengecat kendi dengan cat air (kendi bisa dibawa pulang sebagai suvenir). Main angklung dan pertunjukan boneka juga ada.

Aktivitas: Mewarnai kendi, dakon/congklak, lompat petak

Diujung Kid’s Corner ini ada photo booth dan disediakan berbagai macam baju daerah ukuran anak-anak untuk dipakai foto.

Photobooth: Pakai baju daerah gratis. Foto pakai kamera sendiri.

Semua eksibisi dan fasilitas Kids’s Corner sudah termasuk dalam tiket masuk. Dewasa Rp. 5000 dan anak Rp. 2000, murah sekali kan?. So, Museum Nasional bisa jadi tujuan keluarga.

Dan harusnya anggota DPR dan Parpol juga mesti wisata kesini biar kembali “anchored” ke tujuan awal mereka duduk di DPR dan tidak rame sendiri.

Salam dari Museum Nasional, Jakarta

 

Chiang Mai, Thailand

Liburan kali ini ditrigger oleh setidaknya tiga hal. Pertama, sudah lebih satu tahun tidak liburan bersama. Terakhir kali ke Jepang waktu Sky masih di dalam perut mamanya 5 bulan. Kedua, milleage KF yang terancam expire kalau tidak digunakan bulan April ini, jadi waktunya redeem. Ketiga, yang terakhir, mari kita liburan sebelum Sky berusia dua tahun, sebelum ongkos pesawatnya naik.

Lalu kenapa Chiang Mai, bukan yang lain?. Sebenarnya Taiwan adalah tujuan awalnya, tapi karena waktu mengurus visa yang mepet, ditambah lagi paspor masih kepakai business travel, maka tidak mungkin bisa mengurus visa. Jadi kita putuskan untuk tidak ke Taiwan dan mencari tujuan lain.

Desember lalu, mantan bos saya berkunjung ke Jakarta dan menceritakan travelingnya ke Sukothai, Thailand. Beberapa waktu kemudian, harian Kompas Minggu mengulas Chiang Mai dalam satu halaman penuh. Dari situ kami putuskan untuk ke Thailand. Selain tidak perlu mengurus visa, sudah ada dua sumber yang menceritakan tentang Thailand.

Tapi pertanyaannya, mengapa Chiang Mai? Bukankah banyak kota atau tempat populer di Thailand seperti Bangkok, Pattaya, Phi Phi Island? Jawabannya simple: memilih untuk tidak main stream, banyak wisata di pegunungan, tidak ramai dan ada saudara di Chiang Mai yang bisa dikunjungi.

Ini dia peta perjalanan 5 hari kami di Chiang Mai, Thailand. Akomodasi kami, Hotel Empress Chiang Mai (rate booking.com = 8.4, sangat value for money). Sewa mobil di Budget Catcher (ini facebook linknya).

Jalan kaki di musim panas  ? sedia air banyak-banyak
Jalan kaki di musim panas: Udara panas dan kering, sedia air banyak-banyak. 7-evelen adalah tempat mendinginkan badan. (Illustrasi rute, jalan sebenarnya berkelok-kelok, bukan lurus)
Luar kota: Nyetir 104 km selatan Chiang Mai. Jalanan lebar dan mulus sampai ke atas gunung.
Luar kota: Nyetir 104 km selatan Chiang Mai. Jalanan lebar dan mulus sampai ke atas gunung. (Illustrasi rute, jalan sebenarnya berkelok-kelok, bukan lurus)

Itinerary ringkas kami sebagai berikut:

Day 1: Royal Park Rajapruek, Night Safari.

Day 2: In city 3-must see wats: Wat Chedi Luang, Wat Phra Singh, Wat Chiang Man

Day 3: Doi Suthep National Park, Huay Tung Tao Lake

Day 4: Doi Inthanon National Park

Day 5: Chiang Mai Museums : Art & Cultural, History Center, Lanna Folklife, Shopping Mall, Night Bazar

Sebagai penutup kalau saya ditanya “Apa kesan kamu terhadap Chiang Mai?”. Jawab saya, Top 10 impression terhadap Chiang Mai adalah:

1. Bersih, seluruh kota bersih. Bahkan Night Bazar pun bersih, kios-kios rapi tertata. Tidak ada sampah. Amazing!!

2. Tidak ada macet, pengendara mobil dan motor jauh lebih disiplin. Untuk taksi masih ada sih yang main potong jalan.

3. Infrastruktur jalan ke daerah wisata sangat baik. Jalan lebar dan mulus seperti jalan tol.

4. Sim A Indonesia berlaku buat visitor. Jadi ga perlu sopir, cukup bawa sendiri.

5. Foto Raja dan Ratu yang sedang berkuasa ada dimana-mana (literally). Rakyatnya mencintai Raja dan Ratunya luar biasa. Uang kertas bagus, tidak lecek. Jangan sampai menginjak uang kertas, biar tidak sengaja, karena disitu ada foto Raja. Kalau dilaporkan warga, bisa berurusan dengan Polisi.

6. Harga makanan murah dan enak. Tidak sulit mencari makanan enak dan murah. Harga makanan lebih murah dari Jakarta. Vegetarian tidak akan susah nyari menunya. Menu beef tidak umum, tapi pilihan menu terbatas. Menu pork dan seafood dimana-mana.

7.Baik di rumah makan pinggir jalan, atau rumah makan dengan label TRIP ADVISOR 4 years winner, atau di dalam mall, harga tidak beda jauh.

8. Tidak lihat ada polisi dijalan-jalan, bahkan di tempat keramaian/wisata. Aman.

9. Kota ini punya taman kota. Tempat untuk olah raga dan bermain anak. Pemkotnya menempatkan alat-alat fitness di taman kota, bahkan di kolong fly over.

10. Kota ini membuat warganya aware tentang ASEAN. Bendera negara anggota ASEAN + bendera ASEAN dipasang (masih inget benderanya apa?). Mulai didepan kantor polisi, pertunjukan tari, sampai di arena Tiger Show. Warganya dibikin aware kalau nyari kerjaan ga harus di dalam Thailand.

Itulah kota kecil Chiang Mai.

Our Christmas Tree

Yang berbeda dari suasana Natal tahun ini adalah hadirnya pohon Natal dirumah kami. Sejak kami menikah hingga anak kedua lahir, masih saja males untuk memiliki pohon Natal. 

Alasan males ini karena:

1. Pikirannya selalu tentang pohon Natal yang dijual di ACE Hardware/Matahari/Dept Store etc. Yaitu pohon dari plastik yang mesti dipasang, dibongkar dan disimpan. Tahun depan mesti dibersihin dari debu untuk dibongkar dan pasang lagi. Apalagi gudang rumah kami ada di attic, males naik turun. Ribet!!

2. Tidak ada pohon Natal plastik yang awet. Yang awet bisa berjuta-juta harganya. Jadi beli pohon Natal selalu campur dengan ungkapan “Yah putus…” atau  “yah ilang…” Apalagi dengan kehadiran Sky yang selalu penasaran. Bisa-bisa itu pohon jadi pitak.

3. Harga makin ngga masuk akal. Toko yang jual bener-bener ngeduk keuntungan yang banyak. Harga dan value ga banding.

Di sisi lain, Misael selalu nanyain “Pa… mau beli Christmas tree?”, dan tentunya tidak cuman nanya sekali saja. Sering!!. Lalu munculah ide untuk punya pohon Natal yang asli, yaitu cemara hidup yang dihias. Ide itu makin kuat saja saat lihat teman yang juga beli pohon cemara asli dan dijadikan pohon Natal setelah dipasang aksesoriesnya.

Terus terang saja, saya baru kenal beberapa jenis pohon cemara bulan Desember ini. Misalnya:

1. Cemara lilin (=kurus tinggi daun kecil-kecil). Kalau dijadikan pohon natal, kesannya kok pohonnya cungkring (=kurus). Cocok jadi pagar daripada pohon Natal.

2. Cemara afrika, seperti yang dibeli teman. Kalau mau gampang ya bisa beli ditempat dia beli, yaitu Jakarta. Pohon cemara afrika ini cakep dan cocok untuk dijadikan pohon Natal karena bagian bawah gendut dan mengerucut keatas. Cuman karena belinya di Jakarta, mikir-mikir jauh dan macet cuman untuk beli pohon.

3. Ketiga cemara udang. Entah kenapa disebut udang mungkin karena bentuknya lebih mirip cemara yang dibonsai. Ini malah ga cocok sama sekali dengan pohon Natal.

Istri coba nyari-nyari di Green Mall (sebutan kumpulan penjual bunga di deket rumah). Dan ga nemu pohon yang bagus. Ternyata cari cemara pas ngga gampang juga. Sebagai temporary measure sambil dapet yang pas, maka pohon kamboja di depan rumah pun dihias dengan lampu kelap-kelip. Lumayan menghibur anak sementara walaupun akhirnya dia nanya “Papa itu Christmas tree Misael ?”, “Nggak Mis… tunggu ya”, jawab saya.

Sambil nunggu pohon cemara, pohon kamboja dibikin kelap-kelip
Sambil nunggu pohon cemara, pohon kamboja dibikin kelap-kelip

Akhirnya, minggu 21 Desember pagi kami pergi ke Green Mall lagi dan menemukan Cemara yang pas. Namanya Cemara Kipas dari Medan. Bagian bawah gendut dan mengerucut keatas. Daun-daun melebar seperti kipas. Kata pemilik nurserynya, pohon itu baru datang beberapa hari yang lalu. Karena sudah puas melihat-lihat, maka langsung beli dan minta dibantuin untuk menanam. Sore harinya, pohon setinggi 100 cm-an itu ditanam halaman depan rumah.

Ini dia pohon natal dari cemara hidup
Ini dia pohon natal dari cemara hidup

Setelah lampu dari pohon kamboja dipindahkan ke cemara, dan aksesories ditambahkan, jadilah Christmas tree. Tidak lupa dengan bintang dipucuk pohon yang dibuat dari kawat yang ditekuk-tekuk dan diberi lampu.

Suasana Natal tahun ini berbeda. Walaupun inti Natal bukan di pohon tapi di berita Natal. Kelap-kelip pohon itu dimalam hari membuat halaman lebih hidup dan rumah lebih tentram.

Merry Christmas
Merry Christmas

Semoga pohon cemara kecil ini bisa hidup dihalaman rumah. Dengan harapan tahun depan kami bisa foto lagi disamping pohon ini.

Merry Christmas from Jo Dinatas for you and family.

 

Susahnya Move On

Sudah dua tahun berlalu sejak saya dan keluarga kembali. Walaupun sangat singkat, tapi enam bulan disana benar-benar disyukuri.

Hidup disana sangat menyenangkan. Kalau mau dirunut, kira-kira ini daftar TOP 10nya:

1. Alam bagus, udara bersih, ga ada flu selama 6 bulan, sekeluarga!

2. Air minum tinggal putar keran

3. Dairy product melimpah dan kualitas ga perlu dibahas

4. Akses transportasi mudah. Sampe pucuk gunungpun ada (walaupun ga murah). Stay tune kalau-kalau tageskarte ada lagi

5. Berat badan jadi turun, karena jalan kemana-mana. Terkadang lari ngejar kereta atau bus, naik turun menuju ke kantor, jalan-jalan ke gunung, hutan lalu belok ke danau

6. Punya banyak saudara-saudara baru

7. Ada gereja, bahasa Indonesia lagi

8. Internet kencang ga karuan

9. Mendadak jadi mahir masakan nusantara dan bangga bisa ngeshare makan nasi padang.

Dan yang terakhir adalah ..

EasyJet_logo_svg

10. Yes! itu dia

Walaupun ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan baik di Tanah Air hidup disana tetaplah menyenangkan. Enam bulan disyukuri, karena kami terima sebagai anugerah. Tidak banyak yang punya kesempatan menikmati TOP 10 diatas bersama keluarga.

Memori itu selalu diputar ulang setiap kali saya kembali kesana walau cuman seminggu lamanya. Jadi makin susah move on.

Semoga tidak lagi susah move on.

Japan

Jalan-jalan kali ini memang bisa dibilang sangat spesial buat sekeluarga. Berasa spesial karena pilihannya benar-benar yang dipengenin sama istri. Setelah 9 tahun akhirnya dia bisa kembali lagi ke Jepang. Senang rasanya bisa mewujudkan keinginan yang udah lama sekali dibatin. Dulu istri sempet ngalamin hidup setahun di Jepang, saat nerima beasiswa dari kampus. Kalau dulu sendiri, sekarang dia datang bersama suami, anak dan baby usia 5 bulan diperut.
Sejak pesawat Air Asia X dari KL mulai mendarat di Haneda, dia tidak henti-hentinya senyum. Yang membuat lebih spesial lagi karena sekalian  merayakan ultah istri ditempat yang paling dia suka. So itu alasan mengapa Jepang, bukan yang lain. It is about for Her.

Kami landing 50 menit lebih awal di terminal internasional Haneda. Flight siang hari oke juga. Rasa makanan di pesawat juga enak. Kami pesan 2 menu, satu makan siang dan satu lagi makan malam. Harga makanan pre-order sangat affordable.
image
Selama perjalanan, Misael sibuk mewarnai kalau tidak ya tidur atau main game. Dengan tenang dia mau pakai seat belt. Sudah makin besar, makin ngerti. Setelah bagasi keluar, kami nunggu shuttle bus sebentar untuk selanjutnya menuju ke terminal 2 domestik. Saat itu sudah pukul 23:30. Jadi memang dari awal kami memilih untuk menginap di hotel bandara, Haneda Excel Tokyu. Lebih baik menginap daripada memaksakan diri ke Tokyo tengah malam. Pertimbangannya cuman ongkos transport. Karena di jam semalam itu, cuman bisa pakai taksi karena train bandara ke Tokyo sudah tidak beroperasi di tengah malam. Memaksakan pakai taksi bisa bikin budget liburan 10 hari berantakan. Lagipula dengan nginap di hotel bandara kami bisa langsung melepas semua penat setelah total 12 jam penerbangan dari Jakarta.

Orang hotel sangat ramah dan sopan. Kami mendapat kamar non-smoking dan begitu happy melihat kasur. View dari jendela adalah parkiran pesawat. Dari google ketahuan kalau jendela menghadap timur jadi bisa melihat sunrise.
image

Sepanjang sejarah kami jalan-jalan, ini kamar hotel terbaik (karena tidak ada opsi lain). Walaupun harga semalamnya bisa dipake buat 3 malam di Ueno, tapi memang begitulah demi fresh start esok hari. Selain itu, menginap lebih baik daripada buang duit naik taksi yang tarif buka pintunya saja seharga 710 Yen (70rb rupiah). Ga kebayang berapa ribu Yen dikasih ke sopir taksi untuk 20 KM dari Haneda ke Tokyo.

Di hotel, pelayan yang nganterin tas adalah seorang perempuan. Tubuhnya kecil juga bersuara kecil. Menurut istri, di Jepang cewe-cewe banyak bersuara (dibikin) kecil supaya ada kesan imut, cute. Ga tega lihat tubuh sekecil itu ngangkat koper 29 inch seberat 23 KG, langsung aja aku angkat masuk ke kamar. Dan dia ngasih tahu dengan sopan “It is my Job”. Istri berbisik “Biarkan saja, dia bisa dipecat kalau ketahuan ga ngerjain tugasnya”. Oo….gitu.
image

Mandi… itu yang pertama dilakuin, beban badan serasa ilang setengah setelah diguyur air anget. Hotel ngasih Yukata yang bahannya enak dipakai tidur. Singkat kata, 2 Mei sekitar pukul 2 dini hari kami tertidur. Di kamar twin, istri tidur di bed sendiri biar ga ketendang Misael. Pulas…

To be honest, itinerary selama di Jepang dibikin oleh istri. Saya ngga ikut-ikutan, istri udah arrange sebanyak mungkin tempat yang dikunjungi dan selama mungkin bisa menikmati setiap tempat yang didatengin.

Part I – MEGA CITY TOKYO

2 Mei : Check-in hotel di Sardonyx Ueno, Asakusa, Kaminarimon Gate, Sensoji Temple, Sumidagawa River Cruise dengan Suijobus

3 Mei : Hiking ke Mt.Takao dan ke Tengu-sha (shrine dewa Tengu)

4 Mei : Ikebukuro (Amlux Toyota Showroom), Sunshie City, Shinjuku (naik ke observatory floor Tokyo Metropolitan Government Building)

5 Mei : Gereja di Suidobashi (GIII), Harajuku (Takeshita Street), Meiji Jingu Shring di Yoyogi Park, Shibuya

6 Mei : SPECIAL DAY!!! Istri ultah, seharian di Disneyland Park

Part II – PORT CITY YOKOHAMA

7 Mei: Tokyo Imperial Palace (Nijubashi Bridge), pindah ke Yokohama dan dinner di Osanbashi Pier Yokohama

8 Mei : Chinatown Chukagai Yokohama, Sea Bass Cruise ke Minato Mirai, Aka Renka dan Osanbashi Pier

Part III – CULTURE CITY KYOTO

9 Mei : Pindah ke Kyoto dengan Shinkansen, Sanjusangendo temple (1001 Buddhist images), Kiyumizudera temple

10 Mei : Arashiyama (northen Kyoto), Togetsukyo Bridge, Bamboo Grooves

11 Mei : Fushimi Nari Shrine, Kyoto Tower, travel ke Kansai Airport Osaka

Sejak satu bulan sebelumnya, istri sudah mulai menyusun itinerary. Hari ini, free informasi bisa didapatkan begitu banyaknya dari internet. Bahkan jadwal transportasi Jepang pun bisa diakses online. Ketepatan waktu dari sistem transportasinya menjamin planning yang oke. So, itu juga alasan mengapa kami prefer tidak menggunakan jasa agen perjalanan, karena ingin lebih menikmati liburan sebagaimana mestinya, our style.

Link di tiap tanggal menuju ke posting cerita masing-masing. Please subscribe for alert of new posting.