Tag Archives: Sacre Cour

Paris Part I

Ini adalah perjalanan sekitar 6 bulan lalu, selagi ada di Swiss.
Selama tinggal di Swiss, Perancis adalah negara terakhir yang dikunjungi. Entah kenapa sejak awal tidak begitu tertarik dengan Paris. Alasan paling mendasar adalah keamanan. High-skilled professional pickpockets are there. And they are just like us, the commoners.

Tapi waktu itu tinggal satu bulan lagi, dan tinggal satu weekend saja yang tersisa untuk jalan-jalan, jadi karena didorong rasa tidak mau rugi, kami akhirnya ke Paris.

Lumayan berat bangun pagi hari itu. Suasana pukul 5 di Jumat 12 Oktober 2012 sama seperti masih subuh karena sunrise masih 2.5 jam lagi. Dari ujung ke ujung, jalanan sepi. Hanya suara koper yang digeret aja yang bikin ribut sepanjang jalan ke stasiun Serrieres. Pagi itu kami bertiga dan Sela naik kereta tujuan Neuchatel ke Paris Gare de Lyon.

Bawaan tidak begitu banyak untuk travel 2 malam, dan juga tidak bawa stroller meskipun dengan resiko harus  gendong Misael kalau dia capek.

Semua itinerary Istri yang siapin, saya ngikut saja. Kami nginep di Central Hotel Paris yang cuman 7 menit jalan dari Gare Montparnasse. Selain ratenya cuman 180 Euro untuk dua malam (no breakfast), receptionnya bisa bahasa Inggris (ini penting) dan free wifi di kamar. Selain itu ada banyak restoran asia disepanjang jalan menuju hotel, jadi kalau ada masalah urusan selera…bisa diatasi dengan mudah.

Empat jam di TGV membosankan juga. Dari google map emang terlihat jauh juga jarak Frasne ke Gare de Lyon. Tapi ada baiknya juga kereta di Perancis (dan juga di Jerman), saat beli tiket kita bisa reserve tempat duduk, jadi lebih secure. Tapi buat Swiss yang berpenduduk 8 juta jiwa, reservasi ga begitu perlu kali ya hehehe…

Setelah lama menunggu, sampailah kami di Gare de Lyon Paris. Tujuan pertama siang itu adalah bukan menuju hotel. Langsung tancap gas. Mengandalkan satu aplikasi yang namanya METRO kami berhasil nyari koneksi subway sampai ke Sacre Coeur sebagai tujuan pertama. Awalnya kami celingukan di stasiun karena nyari mesin tiket ga nemu. Pengennya beli tiket dimesin saja daripada beli diloket yang antriannya terlihat panjang. Tapi ternyata cuman itu saja cara beli tiket, mesti di loket, mesti ngantri, ya sudahlah ABB (=apa boleh buat). Lagian karena niatnya liburan jadi ga ada yang ngeburu-buru juga … jalani saja.

Hari pertama di Paris hanya 2 destinasi : Sacre Coeur dan Eiffel. Lebih baik sedikit-sedikit tapi banyak yang bisa dieksplor, experience dan memorize, ketimbang lompat sana-sini demi foto “i am here” kind of. Bukannya ngatain salah, hanya saja bukan style.

image

Destination 1: Basilica Sacre Coeur
Dari Gare de Lyon,  pakai dua line saja. Stop di St Lazare  (dari line 14)  dan ganti, lalu turun di Abbesess (dari line 12). Yang spesial dari Abbesess ini adalah : untuk keluar kepermukaan tanah kita mesti pake tangga (lupakan lift) yang jumlahnya lbh dari 150 anak tangga. Orang dewasa kalah sama anak umur 3 tahun. Misael naik dengan lancarnya sedangkan orang tuanya mesti nyetop dia buat pause dan abis sudah napas begitu sampai diatas. Huh huh huh… ngambil napas dan lepas jaket karena gerah berkeringat.

Dari situ jalan sebentar dan terlihat pelataran Sacre Coeur. Dan ketemu tangga lagi, karena letak basilicanya diatas bukit. Udah ga mau lagi ketemu tangga. Mau naik funiculair aja, yang ternyata ga perlu bayar lagi karena udah punya daily pass yang dibeli di Gare de Lyon dengan masa laku sampe jam 12 malam. Naik bus, naik metro tinggal masuk saja selama masa berlaku. Hemat!.

Boleh masuk ke dalam Sacre Coeur, gratis. Tapi tidak boleh ambil foto. Kali ini bener-bener ‘taat’ aturan, kamera bener-bener disimpen di tasnya. Istri udah minta berkali-kali untuk motret didalam gereja ini. Tapi dengan jawaban yang sama, tetep ga mau motret. Ini karena efek dari jalan-jalan di Basilica St Peter di Vatican. Itu gereja yang paling indah, serius… paling indah sedunia. Seperti abis makan coklat Lindt atau keju Gruyere, trus makan Silver Queen atau Kraft. Seperti itulah berada didalam Sacre Coeur, hahahaha….

image

Sekitar jam 2-an kami mulai turun. Dan aga segerombolan orang afrika yang ngerubungin kita, sekitar 5 orang. Ada yang nepuk bahu dan sok akrab. Pikiran udah jelek aja karena diri sudah sangat cautious dan stay alert sejak awal. Ini orang mau nyopet/rampok/nodong atau apa nih. Tripod besi dipegang erat di tangan kanan dan udah dalam posisi ready kalau sewaktu-waktu ngambil tindakan. Sedangkan tangan kiri berusaha melepaskan tangan orang ambon itu. “Don’t touch!!, Stay Away!!” teriakku. Istri dan Misael bukan ‘target’ jadi mereka sudah jalan didepan. Orang afrika itu mulai provokatif dengan ngumpat-ngumpat F**k You, untungnya ga kepancing dan ninggalin mereka. Ga ada kehilangan atau apapun. Dompet ada dibagian dasar tas ransel. Tertimbun dibawah bekal dan popok Misael (tips dari Vitalina Djohan nih).
Dikemudian hari, baru tahu kalau gerombolan afrika itu maunya ngiket cincin/gelang ke jari atai lengan, trus kita diperas 20 euro karena udah pake cincing/gelang itu. Kata Omo, mereka nggak akan kontak fisik tapi main kata-kata kasar saja karena kalau mukul pasti salah dan bisa urusan sama polisi. Bukannya diskriminatif, dan juga bukan selalu kebetulan juga kalau perilaku yang ditunjukkan oleh siapapun seems typical.

Huah…laper… ga mikir panjang langsung masuk ke resto Cambodia diarah yang sama dengan arah menuju ke stasiun Abbesess. Makan dulu disana dengan enaknya, kenyangnya dan… murahnya hahahaha… jika dibanding negeri Swiss yang tahulah gimana…

Hari sudah agak sore, selanjutnya menuju destination 2 : Eiffel
Cukup transfer metro satu kali dan terlihatlah menara itu begitu keluar dari stasiun. Woooowwwww… wooowwww…keren.

image

Literally stunned dengan pemandangannya. Terlebih lagi saat berdiri dibawahnya. Memandang empat kaki eiffel terbentang ditiap sudut, mendongak keatas sambil melihat struktur menara yang mengagumkan itu benar-benar pengalaman. Biasanya ada empat elevator disetiap kaki menara yang bisa digunakan untuk naik ke puncak. Tapi hari itu hanya dua elevator yang berfungsi. Akibatnya antrian ratusan (mungkin sudah mencapai angka ribu) yang ngantri. Pikirku buat apa buang waktu hanya untuk naik keatas, mending duduk di taman sambil mandangin Eiffel yang cantik itu.

image

Ada banyak patung beruang disana. Dan beruang-beruang itu menggambarkan satu negara.

image

Mana Indonesia… mana Indonesia… tolah-toleh sambil ngurutin patung beruang yang diurutin berdasarkan abjad. Dan akhirnya ketemu juga…beruangnya Indonesia seperti Bagong hahahaha…

image

Hari itu janjian ketemu dengan Cedric dan Mbak Puji yang lagi punya acara berdua (anak-anaknya ga dibawa), smart!!. Bisa ditiru kalau Misael udah gede ntar 🙂
Seneng rasanya kalau bisa jalan bareng-bareng dengan mereka.

image

Hari mulai malam dan kami mulai berjalan menuju ke stasiun, dalam perjalanan kami keheranan dengan saking banyaknya orang yang berhenti dan motret ke arah Eiffel. Ternyata… lampu Eiffel baru saja dinyalakan, kami ga tahu karena berjalanan membelakangi. Cantik banget, tapi karena ribet ngeluarin kamera dan pasti bakal lama jadi cukup dipandangin Eiffel yang menyala cantik dengan latar langit sore yang membiru (blue hour).

Kami makan malam French cuisine. Enaknyo… apalagi ditraktir sama Cedric, jadi dobel enaknya. Merci Cedric, Mbak Puji.

Malam itu kami balik ke hotel dan istirahat dengan puas. Tahu bagus dan terjangkaunya Paris dari Neuchatel, harusnya udah pergi kesini sebelumnya. That’s how we called a day.

Hari berikutnya akan banyak dihabiskan di satu tujuan yaitu Musee du Louvre. Seharian disana, dari jam buka sampai jam tutup. Amazing!!