Tag Archives: Wisata Keluarga

Situ Bagendit, Garut

Pemandangan alam di kaki gunung Guntur yang berbukit-bukit dan sawah terasiring dibawahnya membuat kagum sepanjang perjalanan dari Bandung ke Situ Bagendit.

Mata yang biasanya melihat padatnya jalanan dan toko-toko di mall kali itu disegarkan. Tidak sedikit saya ber wow-wow sambil nyetir di jalan yang lebarnya dua mobil. Saat itu kami mengambil jalan memutar. Di pertigaan Nagrek kami berjalan lurus yang seharusnya belok kanan menuju Garut. Walaupun demikian memutar, kami melalui jalan dengan pemandangan alamnya tidak mengecewakan.

Tujuan awal ke Garut tanggal 16 Mei yang lalu sebenarnya Candi Cangkuang. Kami berangkat dari Bandung selepas makan siang dan mengikuti arahan Google Maps tapi tak kunjung menemukan Candi Cangkuang. Itu karena setelah melewati pertigaan Nagrek kami yang seharusnya belok kanan, terlanjur lurus sehingga  harus melalui jalan memutar untuk mencapai Garut, kalau tidak kami bisa sampai di Tasikmalaya. Ternyata jalan memutar itu membuat kami ketemu dengan Situ Bagendit, salah satu danau yang dikenal di Jawa Barat. Saat itu sudah 10 menit lewat pukul 3 sore dan karena capek kelamaan di jalan, kami putuskan untuk berhenti, merubah tujuan dari Candi ke Situ.

Situ Bagendit, view dari tengah danau

View danau ini sangat indah. Ada banyak balai yang beralaskan tikar untuk duduk atau piknik. Misael senang dengan kolam pancing kecil. Beberapa kali dia ke kolam itu dengan pancing mini yang ujungnya magnet. Setelah selesai makan, diapun langsung kembali ke kolam itu, ngomong ke penjaganya minta ijin untuk mincing lagi. Saat si Kakak duduk rapi mancing, adiknya main air dan lempar-lempar ikan sampai air nyiprat-nyiprat dan bikin celananya agak basah. Walaupun kebersihan dan kerapihan tempat istirahat itu sangat jauh dari standar, hati senang melihat anak-anak merasa nyaman dengan mainannya. Dan ternyata mainan jaman dulu dan sekarang tidak beda.

Mancing ala Mis dan bersepeda di tengah danau

Setelah puas mancing Misael ingin  naik kuda dan kereta diesel yang track rel ovalnya mengitari area istirahat. Tapi apa boleh buat, semua atraksi itu tutup saat waktu mendekati pukul 5 sore, tidak ada lagi kereta dan kuda. Akhirnya kami berempat naik bebek yang dikayuh dan menuju ke tengah danau. Dari tengah danau, suasana benar-benar berbeda. Kalau melihat kedepan kita disuguhi pemandangan sunset dibalik gunung. Dan kalau melihat kebelakang, kita lihat tumbuhan yang rimbun. Saat sudah ditengah danau, Situ ini terasa istimewa.

Sunset dari Situ Bagendit

Kami adalah rombongan yang terakhir yang meninggalkan Situ Bagendit. Dan malam itu kami sampai Bandung pukul 20:30 atau 2.5 jam di jalan karena macet.

Harapan saya, tempat ini dikelola dengan baik kelak. Harga tiket dinaikkan, ke 20 ribu saja, maka sebenarnya ada ruang untuk membayar orang untuk memelihara tempat, ngebersihin enceng gondok yang makin subur dan ngebetulin balai yang sudah reyot. Selain itu moga-moga kesadaran pengunjung untuk memelihara fasilitas dan tidak buang sampah sembarangan bisa berubah. Biar Situ Bagendit bisa makin terkenal.

Unusual Lembang Attraction

Ada satu lahan di daerah Lembang yang dimiliki oleh UPI (= Universitas Pendidikan Indonesia). Lahan itu kosong dan diusahakan orang dengan menanam sayur seperti jagung, singkong dan brokoli. Saat berkunjung ke rumah Oppung, kami main ke lahan itu. Lokasinya di Jalan Kolonel Masturi. Sesampainya di lahan itu terlihat jelas perbedaan antara Misael dan Sky.

Terabas , duduk dan main tanah

Sky langsung nyelonong turun ke tanah sedangkan Misael masih lihat-lihat. Misael memilih jalan yang padat, Sky main terabas saja. Saat capek, Misael ngerajuk minta gendong atau minta alas sandal buat duduk di tanah, sedangkan Sky langsung duduk ditanah. Misael pegang daun-daun, dan sesekali pegang tanah. Sebaliknya Sky ngaduk-ngaduk tanah dengan jari bahkan “membabtis” diri dengan mengguyur kepala dengan tanah. Itu hanya sebagian perbedaan antara si kakak dan adiknya.

Ditengah kebun brokoli

Walaupun demikian mereka merasa senang karena main di luar dengan udara segar dan sejuk. Terlihat bedanya saat mereka ada di mall atau tempat belanja, walaupun capek bermain diluar, mereka terlihat segar. Tak lupa juga Mama Misael dapat hadiah dua pohon cabe yang sudah berbuah lebat. Dan moga-moga pohon cabenya bisa hidup dan juga berbuah kalau ditanam di Cikarang karena tidak hanya pohon yang dibawa, tanah Lembang (yang terkenal subur) sekalian dibawa.

 

Oleh-oleh yang diharapkan berbuah lebat di Cikarang

Malam itu kami makan dengan sambal dari cabe yang pohonnya kami bawa pulang. Hanya cabe, bawang putih dan garam yang diuleg, enak dan segar. Cabe fresh from the tree. What an unusual activities in Lembang.

Salam dari Bandung

 

Museum Nasional, Jakarta

Masuk ke Museum Nasional mengingatkan kalau Indonesia begitu besar dan luar biasa kaya akan sejarahnya. Ini membuat saya sejenak lupa dengan kegaduhan parpol, saling serang polisi dan KPK dan komentar-komentar sok tahu pengamat tentang pemerintahan.

Letaknya persis di depan halte busway Monas arah ke Harmoni. Ada dua gedung, lama dan baru. Gedung baru punya 4 lantai eksibisi yang disusun berdasarkan tema seperti jaman prasejarah, jaman kerajaan hindu beserta prasastinya, pengetahuan, perhiasan emas dan keramik.

View Monas dari lantai 4 gedung baru

Penataan gedung baru membawa kesan kalau Museum ini sedang dimodernisasikan. Tidak hanya dengan AC yang lebih sejuk, tapi juga lantai bagus dan tata pencahayaan yang jauh lebih baik. Kontrasnya bisa dilihat di gedung lama, persis disebelahnya. Yaitu gedung satu lantai memanjang kebelakang dengan beberapa ruangan berisi benda-benda adat mulai dari suku batak, jawa, asmat (dan banyak lagi, tidak ingat satu-satu). Kami melihat alat-alat ritual, alat musik, patung dan pakaian adat yang ada di Indonesia. Di sisi gedung ini juga arca-arca dari batu. Menurut kami, museum ini menarik karena bisa belajar sedikit tentang isi Indonesia yang kaya akan budaya. Dan jelas budaya asli selalu berkaitan dengan agama asli suku-suku Indonesia: anismisme dan dinamisme. Beberapa tempat memang terasa spooky, tapi itu perasaan saja.

Kid’s Corner: Meja untuk mewarnai dan membatik

 

Museum ini juga memperhatikan edukasi sejarah untuk anak-anak. Ada Kid’s Corner yang letaknya di gedung baru. Satu ruangan besar penuh warna dengan berbagai macam mainan masa kecil kita. Sebut saja dakon, bekel, gasing, lompat petak dan kuda lumping. Semua bisa dimainkan disana. Kalau ada pengajar, maka anak-anak juga bisa belajar membatik. Selain itu, ada tempat beraktivitas mewarnai, dengan crayon atau mengecat kendi dengan cat air (kendi bisa dibawa pulang sebagai suvenir). Main angklung dan pertunjukan boneka juga ada.

Aktivitas: Mewarnai kendi, dakon/congklak, lompat petak

Diujung Kid’s Corner ini ada photo booth dan disediakan berbagai macam baju daerah ukuran anak-anak untuk dipakai foto.

Photobooth: Pakai baju daerah gratis. Foto pakai kamera sendiri.

Semua eksibisi dan fasilitas Kids’s Corner sudah termasuk dalam tiket masuk. Dewasa Rp. 5000 dan anak Rp. 2000, murah sekali kan?. So, Museum Nasional bisa jadi tujuan keluarga.

Dan harusnya anggota DPR dan Parpol juga mesti wisata kesini biar kembali “anchored” ke tujuan awal mereka duduk di DPR dan tidak rame sendiri.

Salam dari Museum Nasional, Jakarta

 

Chiang Mai, Thailand

Liburan kali ini ditrigger oleh setidaknya tiga hal. Pertama, sudah lebih satu tahun tidak liburan bersama. Terakhir kali ke Jepang waktu Sky masih di dalam perut mamanya 5 bulan. Kedua, milleage KF yang terancam expire kalau tidak digunakan bulan April ini, jadi waktunya redeem. Ketiga, yang terakhir, mari kita liburan sebelum Sky berusia dua tahun, sebelum ongkos pesawatnya naik.

Lalu kenapa Chiang Mai, bukan yang lain?. Sebenarnya Taiwan adalah tujuan awalnya, tapi karena waktu mengurus visa yang mepet, ditambah lagi paspor masih kepakai business travel, maka tidak mungkin bisa mengurus visa. Jadi kita putuskan untuk tidak ke Taiwan dan mencari tujuan lain.

Desember lalu, mantan bos saya berkunjung ke Jakarta dan menceritakan travelingnya ke Sukothai, Thailand. Beberapa waktu kemudian, harian Kompas Minggu mengulas Chiang Mai dalam satu halaman penuh. Dari situ kami putuskan untuk ke Thailand. Selain tidak perlu mengurus visa, sudah ada dua sumber yang menceritakan tentang Thailand.

Tapi pertanyaannya, mengapa Chiang Mai? Bukankah banyak kota atau tempat populer di Thailand seperti Bangkok, Pattaya, Phi Phi Island? Jawabannya simple: memilih untuk tidak main stream, banyak wisata di pegunungan, tidak ramai dan ada saudara di Chiang Mai yang bisa dikunjungi.

Ini dia peta perjalanan 5 hari kami di Chiang Mai, Thailand. Akomodasi kami, Hotel Empress Chiang Mai (rate booking.com = 8.4, sangat value for money). Sewa mobil di Budget Catcher (ini facebook linknya).

Jalan kaki di musim panas  ? sedia air banyak-banyak
Jalan kaki di musim panas: Udara panas dan kering, sedia air banyak-banyak. 7-evelen adalah tempat mendinginkan badan. (Illustrasi rute, jalan sebenarnya berkelok-kelok, bukan lurus)
Luar kota: Nyetir 104 km selatan Chiang Mai. Jalanan lebar dan mulus sampai ke atas gunung.
Luar kota: Nyetir 104 km selatan Chiang Mai. Jalanan lebar dan mulus sampai ke atas gunung. (Illustrasi rute, jalan sebenarnya berkelok-kelok, bukan lurus)

Itinerary ringkas kami sebagai berikut:

Day 1: Royal Park Rajapruek, Night Safari.

Day 2: In city 3-must see wats: Wat Chedi Luang, Wat Phra Singh, Wat Chiang Man

Day 3: Doi Suthep National Park, Huay Tung Tao Lake

Day 4: Doi Inthanon National Park

Day 5: Chiang Mai Museums : Art & Cultural, History Center, Lanna Folklife, Shopping Mall, Night Bazar

Sebagai penutup kalau saya ditanya “Apa kesan kamu terhadap Chiang Mai?”. Jawab saya, Top 10 impression terhadap Chiang Mai adalah:

1. Bersih, seluruh kota bersih. Bahkan Night Bazar pun bersih, kios-kios rapi tertata. Tidak ada sampah. Amazing!!

2. Tidak ada macet, pengendara mobil dan motor jauh lebih disiplin. Untuk taksi masih ada sih yang main potong jalan.

3. Infrastruktur jalan ke daerah wisata sangat baik. Jalan lebar dan mulus seperti jalan tol.

4. Sim A Indonesia berlaku buat visitor. Jadi ga perlu sopir, cukup bawa sendiri.

5. Foto Raja dan Ratu yang sedang berkuasa ada dimana-mana (literally). Rakyatnya mencintai Raja dan Ratunya luar biasa. Uang kertas bagus, tidak lecek. Jangan sampai menginjak uang kertas, biar tidak sengaja, karena disitu ada foto Raja. Kalau dilaporkan warga, bisa berurusan dengan Polisi.

6. Harga makanan murah dan enak. Tidak sulit mencari makanan enak dan murah. Harga makanan lebih murah dari Jakarta. Vegetarian tidak akan susah nyari menunya. Menu beef tidak umum, tapi pilihan menu terbatas. Menu pork dan seafood dimana-mana.

7.Baik di rumah makan pinggir jalan, atau rumah makan dengan label TRIP ADVISOR 4 years winner, atau di dalam mall, harga tidak beda jauh.

8. Tidak lihat ada polisi dijalan-jalan, bahkan di tempat keramaian/wisata. Aman.

9. Kota ini punya taman kota. Tempat untuk olah raga dan bermain anak. Pemkotnya menempatkan alat-alat fitness di taman kota, bahkan di kolong fly over.

10. Kota ini membuat warganya aware tentang ASEAN. Bendera negara anggota ASEAN + bendera ASEAN dipasang (masih inget benderanya apa?). Mulai didepan kantor polisi, pertunjukan tari, sampai di arena Tiger Show. Warganya dibikin aware kalau nyari kerjaan ga harus di dalam Thailand.

Itulah kota kecil Chiang Mai.

Japan

Jalan-jalan kali ini memang bisa dibilang sangat spesial buat sekeluarga. Berasa spesial karena pilihannya benar-benar yang dipengenin sama istri. Setelah 9 tahun akhirnya dia bisa kembali lagi ke Jepang. Senang rasanya bisa mewujudkan keinginan yang udah lama sekali dibatin. Dulu istri sempet ngalamin hidup setahun di Jepang, saat nerima beasiswa dari kampus. Kalau dulu sendiri, sekarang dia datang bersama suami, anak dan baby usia 5 bulan diperut.
Sejak pesawat Air Asia X dari KL mulai mendarat di Haneda, dia tidak henti-hentinya senyum. Yang membuat lebih spesial lagi karena sekalian  merayakan ultah istri ditempat yang paling dia suka. So itu alasan mengapa Jepang, bukan yang lain. It is about for Her.

Kami landing 50 menit lebih awal di terminal internasional Haneda. Flight siang hari oke juga. Rasa makanan di pesawat juga enak. Kami pesan 2 menu, satu makan siang dan satu lagi makan malam. Harga makanan pre-order sangat affordable.
image
Selama perjalanan, Misael sibuk mewarnai kalau tidak ya tidur atau main game. Dengan tenang dia mau pakai seat belt. Sudah makin besar, makin ngerti. Setelah bagasi keluar, kami nunggu shuttle bus sebentar untuk selanjutnya menuju ke terminal 2 domestik. Saat itu sudah pukul 23:30. Jadi memang dari awal kami memilih untuk menginap di hotel bandara, Haneda Excel Tokyu. Lebih baik menginap daripada memaksakan diri ke Tokyo tengah malam. Pertimbangannya cuman ongkos transport. Karena di jam semalam itu, cuman bisa pakai taksi karena train bandara ke Tokyo sudah tidak beroperasi di tengah malam. Memaksakan pakai taksi bisa bikin budget liburan 10 hari berantakan. Lagipula dengan nginap di hotel bandara kami bisa langsung melepas semua penat setelah total 12 jam penerbangan dari Jakarta.

Orang hotel sangat ramah dan sopan. Kami mendapat kamar non-smoking dan begitu happy melihat kasur. View dari jendela adalah parkiran pesawat. Dari google ketahuan kalau jendela menghadap timur jadi bisa melihat sunrise.
image

Sepanjang sejarah kami jalan-jalan, ini kamar hotel terbaik (karena tidak ada opsi lain). Walaupun harga semalamnya bisa dipake buat 3 malam di Ueno, tapi memang begitulah demi fresh start esok hari. Selain itu, menginap lebih baik daripada buang duit naik taksi yang tarif buka pintunya saja seharga 710 Yen (70rb rupiah). Ga kebayang berapa ribu Yen dikasih ke sopir taksi untuk 20 KM dari Haneda ke Tokyo.

Di hotel, pelayan yang nganterin tas adalah seorang perempuan. Tubuhnya kecil juga bersuara kecil. Menurut istri, di Jepang cewe-cewe banyak bersuara (dibikin) kecil supaya ada kesan imut, cute. Ga tega lihat tubuh sekecil itu ngangkat koper 29 inch seberat 23 KG, langsung aja aku angkat masuk ke kamar. Dan dia ngasih tahu dengan sopan “It is my Job”. Istri berbisik “Biarkan saja, dia bisa dipecat kalau ketahuan ga ngerjain tugasnya”. Oo….gitu.
image

Mandi… itu yang pertama dilakuin, beban badan serasa ilang setengah setelah diguyur air anget. Hotel ngasih Yukata yang bahannya enak dipakai tidur. Singkat kata, 2 Mei sekitar pukul 2 dini hari kami tertidur. Di kamar twin, istri tidur di bed sendiri biar ga ketendang Misael. Pulas…

To be honest, itinerary selama di Jepang dibikin oleh istri. Saya ngga ikut-ikutan, istri udah arrange sebanyak mungkin tempat yang dikunjungi dan selama mungkin bisa menikmati setiap tempat yang didatengin.

Part I – MEGA CITY TOKYO

2 Mei : Check-in hotel di Sardonyx Ueno, Asakusa, Kaminarimon Gate, Sensoji Temple, Sumidagawa River Cruise dengan Suijobus

3 Mei : Hiking ke Mt.Takao dan ke Tengu-sha (shrine dewa Tengu)

4 Mei : Ikebukuro (Amlux Toyota Showroom), Sunshie City, Shinjuku (naik ke observatory floor Tokyo Metropolitan Government Building)

5 Mei : Gereja di Suidobashi (GIII), Harajuku (Takeshita Street), Meiji Jingu Shring di Yoyogi Park, Shibuya

6 Mei : SPECIAL DAY!!! Istri ultah, seharian di Disneyland Park

Part II – PORT CITY YOKOHAMA

7 Mei: Tokyo Imperial Palace (Nijubashi Bridge), pindah ke Yokohama dan dinner di Osanbashi Pier Yokohama

8 Mei : Chinatown Chukagai Yokohama, Sea Bass Cruise ke Minato Mirai, Aka Renka dan Osanbashi Pier

Part III – CULTURE CITY KYOTO

9 Mei : Pindah ke Kyoto dengan Shinkansen, Sanjusangendo temple (1001 Buddhist images), Kiyumizudera temple

10 Mei : Arashiyama (northen Kyoto), Togetsukyo Bridge, Bamboo Grooves

11 Mei : Fushimi Nari Shrine, Kyoto Tower, travel ke Kansai Airport Osaka

Sejak satu bulan sebelumnya, istri sudah mulai menyusun itinerary. Hari ini, free informasi bisa didapatkan begitu banyaknya dari internet. Bahkan jadwal transportasi Jepang pun bisa diakses online. Ketepatan waktu dari sistem transportasinya menjamin planning yang oke. So, itu juga alasan mengapa kami prefer tidak menggunakan jasa agen perjalanan, karena ingin lebih menikmati liburan sebagaimana mestinya, our style.

Link di tiap tanggal menuju ke posting cerita masing-masing. Please subscribe for alert of new posting.

Paris Part I

Ini adalah perjalanan sekitar 6 bulan lalu, selagi ada di Swiss.
Selama tinggal di Swiss, Perancis adalah negara terakhir yang dikunjungi. Entah kenapa sejak awal tidak begitu tertarik dengan Paris. Alasan paling mendasar adalah keamanan. High-skilled professional pickpockets are there. And they are just like us, the commoners.

Tapi waktu itu tinggal satu bulan lagi, dan tinggal satu weekend saja yang tersisa untuk jalan-jalan, jadi karena didorong rasa tidak mau rugi, kami akhirnya ke Paris.

Lumayan berat bangun pagi hari itu. Suasana pukul 5 di Jumat 12 Oktober 2012 sama seperti masih subuh karena sunrise masih 2.5 jam lagi. Dari ujung ke ujung, jalanan sepi. Hanya suara koper yang digeret aja yang bikin ribut sepanjang jalan ke stasiun Serrieres. Pagi itu kami bertiga dan Sela naik kereta tujuan Neuchatel ke Paris Gare de Lyon.

Bawaan tidak begitu banyak untuk travel 2 malam, dan juga tidak bawa stroller meskipun dengan resiko harus  gendong Misael kalau dia capek.

Semua itinerary Istri yang siapin, saya ngikut saja. Kami nginep di Central Hotel Paris yang cuman 7 menit jalan dari Gare Montparnasse. Selain ratenya cuman 180 Euro untuk dua malam (no breakfast), receptionnya bisa bahasa Inggris (ini penting) dan free wifi di kamar. Selain itu ada banyak restoran asia disepanjang jalan menuju hotel, jadi kalau ada masalah urusan selera…bisa diatasi dengan mudah.

Empat jam di TGV membosankan juga. Dari google map emang terlihat jauh juga jarak Frasne ke Gare de Lyon. Tapi ada baiknya juga kereta di Perancis (dan juga di Jerman), saat beli tiket kita bisa reserve tempat duduk, jadi lebih secure. Tapi buat Swiss yang berpenduduk 8 juta jiwa, reservasi ga begitu perlu kali ya hehehe…

Setelah lama menunggu, sampailah kami di Gare de Lyon Paris. Tujuan pertama siang itu adalah bukan menuju hotel. Langsung tancap gas. Mengandalkan satu aplikasi yang namanya METRO kami berhasil nyari koneksi subway sampai ke Sacre Coeur sebagai tujuan pertama. Awalnya kami celingukan di stasiun karena nyari mesin tiket ga nemu. Pengennya beli tiket dimesin saja daripada beli diloket yang antriannya terlihat panjang. Tapi ternyata cuman itu saja cara beli tiket, mesti di loket, mesti ngantri, ya sudahlah ABB (=apa boleh buat). Lagian karena niatnya liburan jadi ga ada yang ngeburu-buru juga … jalani saja.

Hari pertama di Paris hanya 2 destinasi : Sacre Coeur dan Eiffel. Lebih baik sedikit-sedikit tapi banyak yang bisa dieksplor, experience dan memorize, ketimbang lompat sana-sini demi foto “i am here” kind of. Bukannya ngatain salah, hanya saja bukan style.

image

Destination 1: Basilica Sacre Coeur
Dari Gare de Lyon,  pakai dua line saja. Stop di St Lazare  (dari line 14)  dan ganti, lalu turun di Abbesess (dari line 12). Yang spesial dari Abbesess ini adalah : untuk keluar kepermukaan tanah kita mesti pake tangga (lupakan lift) yang jumlahnya lbh dari 150 anak tangga. Orang dewasa kalah sama anak umur 3 tahun. Misael naik dengan lancarnya sedangkan orang tuanya mesti nyetop dia buat pause dan abis sudah napas begitu sampai diatas. Huh huh huh… ngambil napas dan lepas jaket karena gerah berkeringat.

Dari situ jalan sebentar dan terlihat pelataran Sacre Coeur. Dan ketemu tangga lagi, karena letak basilicanya diatas bukit. Udah ga mau lagi ketemu tangga. Mau naik funiculair aja, yang ternyata ga perlu bayar lagi karena udah punya daily pass yang dibeli di Gare de Lyon dengan masa laku sampe jam 12 malam. Naik bus, naik metro tinggal masuk saja selama masa berlaku. Hemat!.

Boleh masuk ke dalam Sacre Coeur, gratis. Tapi tidak boleh ambil foto. Kali ini bener-bener ‘taat’ aturan, kamera bener-bener disimpen di tasnya. Istri udah minta berkali-kali untuk motret didalam gereja ini. Tapi dengan jawaban yang sama, tetep ga mau motret. Ini karena efek dari jalan-jalan di Basilica St Peter di Vatican. Itu gereja yang paling indah, serius… paling indah sedunia. Seperti abis makan coklat Lindt atau keju Gruyere, trus makan Silver Queen atau Kraft. Seperti itulah berada didalam Sacre Coeur, hahahaha….

image

Sekitar jam 2-an kami mulai turun. Dan aga segerombolan orang afrika yang ngerubungin kita, sekitar 5 orang. Ada yang nepuk bahu dan sok akrab. Pikiran udah jelek aja karena diri sudah sangat cautious dan stay alert sejak awal. Ini orang mau nyopet/rampok/nodong atau apa nih. Tripod besi dipegang erat di tangan kanan dan udah dalam posisi ready kalau sewaktu-waktu ngambil tindakan. Sedangkan tangan kiri berusaha melepaskan tangan orang ambon itu. “Don’t touch!!, Stay Away!!” teriakku. Istri dan Misael bukan ‘target’ jadi mereka sudah jalan didepan. Orang afrika itu mulai provokatif dengan ngumpat-ngumpat F**k You, untungnya ga kepancing dan ninggalin mereka. Ga ada kehilangan atau apapun. Dompet ada dibagian dasar tas ransel. Tertimbun dibawah bekal dan popok Misael (tips dari Vitalina Djohan nih).
Dikemudian hari, baru tahu kalau gerombolan afrika itu maunya ngiket cincin/gelang ke jari atai lengan, trus kita diperas 20 euro karena udah pake cincing/gelang itu. Kata Omo, mereka nggak akan kontak fisik tapi main kata-kata kasar saja karena kalau mukul pasti salah dan bisa urusan sama polisi. Bukannya diskriminatif, dan juga bukan selalu kebetulan juga kalau perilaku yang ditunjukkan oleh siapapun seems typical.

Huah…laper… ga mikir panjang langsung masuk ke resto Cambodia diarah yang sama dengan arah menuju ke stasiun Abbesess. Makan dulu disana dengan enaknya, kenyangnya dan… murahnya hahahaha… jika dibanding negeri Swiss yang tahulah gimana…

Hari sudah agak sore, selanjutnya menuju destination 2 : Eiffel
Cukup transfer metro satu kali dan terlihatlah menara itu begitu keluar dari stasiun. Woooowwwww… wooowwww…keren.

image

Literally stunned dengan pemandangannya. Terlebih lagi saat berdiri dibawahnya. Memandang empat kaki eiffel terbentang ditiap sudut, mendongak keatas sambil melihat struktur menara yang mengagumkan itu benar-benar pengalaman. Biasanya ada empat elevator disetiap kaki menara yang bisa digunakan untuk naik ke puncak. Tapi hari itu hanya dua elevator yang berfungsi. Akibatnya antrian ratusan (mungkin sudah mencapai angka ribu) yang ngantri. Pikirku buat apa buang waktu hanya untuk naik keatas, mending duduk di taman sambil mandangin Eiffel yang cantik itu.

image

Ada banyak patung beruang disana. Dan beruang-beruang itu menggambarkan satu negara.

image

Mana Indonesia… mana Indonesia… tolah-toleh sambil ngurutin patung beruang yang diurutin berdasarkan abjad. Dan akhirnya ketemu juga…beruangnya Indonesia seperti Bagong hahahaha…

image

Hari itu janjian ketemu dengan Cedric dan Mbak Puji yang lagi punya acara berdua (anak-anaknya ga dibawa), smart!!. Bisa ditiru kalau Misael udah gede ntar 🙂
Seneng rasanya kalau bisa jalan bareng-bareng dengan mereka.

image

Hari mulai malam dan kami mulai berjalan menuju ke stasiun, dalam perjalanan kami keheranan dengan saking banyaknya orang yang berhenti dan motret ke arah Eiffel. Ternyata… lampu Eiffel baru saja dinyalakan, kami ga tahu karena berjalanan membelakangi. Cantik banget, tapi karena ribet ngeluarin kamera dan pasti bakal lama jadi cukup dipandangin Eiffel yang menyala cantik dengan latar langit sore yang membiru (blue hour).

Kami makan malam French cuisine. Enaknyo… apalagi ditraktir sama Cedric, jadi dobel enaknya. Merci Cedric, Mbak Puji.

Malam itu kami balik ke hotel dan istirahat dengan puas. Tahu bagus dan terjangkaunya Paris dari Neuchatel, harusnya udah pergi kesini sebelumnya. That’s how we called a day.

Hari berikutnya akan banyak dihabiskan di satu tujuan yaitu Musee du Louvre. Seharian disana, dari jam buka sampai jam tutup. Amazing!!